Kenapa Finlandia Pendidikannya Terbaik di Dunia?

Saya pernah ditanya kenapa Finlandia menjadi negara terbaik dalam bidang pendidikan. Saat itu saya belum punya jawaban, karena saya sendiri bari tahu kalau Finlandialah sekarang yang memiliki kualitas pendidikan terbaik di dunia, bukan Jepang, Amerika, Inggris atau Australia. Lalu saya pun bertanya, kenapa Finlandia?

Setelah dua hari mengikuti training di keluarga baru saya di Yayasan Pendidikan Al Abidin Surakarta, semua itu terjawab. Finlandia menerapkan pendidikan yang begitu sederhana tetapi begitu mengena kepada anak didik mereka. Hal ini ditunjukkan dengan keberhasilan yang sangat signifikan dalam pendidikan di negaranya. Contohnya, dari segi siswa, di sana mereka tidak dijejali dengan jam pelajaran dan deretan mata pelajaran yang begitu merenggut usia belia mereka. Siswa bahkan diberi libur hampir tiga bulan setiap tahunnya. Mungkin kalau ini berlaku juga di negara-negara yang memiliki empat musim, karena mereka punya liburan musim panas yang cukup panjang. Selain itu, guru-guru disana bebas menentukan kurikulum mereka sendiri. Tidak seperti di negara kita yang kurikulumnya serba diatur pemerintah. Di Finlandia, guru-guru diberi keleluasaan untuk libur selama tiga sampai enam bulan, asalkan setelah libur mereka menyerahkan hasil karya tulis maupun penilitian yang berhubungan dengan bidang studi mereka masing-masing. Guru tidak serta merta menggunakan buku paket yang membuat guru tidak luas dalam menyampaikan materi pelajaran.

Buku paket memang diperlukan, tapi hendaknya sang guru bisa lebih inovatif dalam menyampaikan materi yang akan ia ajarkan. Ilustrasi yang saya dapatkan dari Pak Suhadi Fadjaray saat pelatihan, buku paket ibarat kunyahan buah segar dari mulut orang lain. Buah segar itu adalah ilmu pengetahuan, buah itu lalu dikunyah oleh orang lain, dan orang lain itu memberikan hasil kunyahannya kepada kita. Kalau dibayangkan bagaimana Anda menanggapi hasil kunyahan orang itu, maukah Anda memakannya? Menjijikkan bukan? Nah begitu pula dengan buku paket, ilmu yang begitu segar, telah dikunyah oleh penerbit dan diberikanlah hasil kunyahan mereka berupa buku paket itu kepada kita para guru…lalu bagaimana sikap Anda, maukah Anda menggunakannya? Sayangnya kita masih saja menerima hasil kunyahan para penerbit itu untuk diberikan kepada anak didik kita. Guru dituntut untuk bisa menghasilkan bukunya sendiri agar penyampaian materi bisa lebih mengena pada kebutuhan anak didik mereka.

Di Finlandia setiap guru merasa stress bukan karena anak didiknya yang nilainya jelek-jelek, tapi mereka stress bagaimana mencari metoda belajar yang sesuai dengan anak didik mereka. Ketika anak didiknya belum juga mencapai nilai seperti yang diharapkan, mereka menganggap berarti ada yang salah dalam metoda mengajar mereka. Inilah yang seharusnya direnungkan juga oleh guru-guru kita di Indonesia. Sudahlah mereka sampai pada tingkat stress guru-guru Finlandia?

Anak-anak memiliki gaya-gaya belajarnya sendiri-sendiri, ada yang kinestetik, visual dan auditori. Mungkin saat ini kita masih menyampaikannya dengan satu gaya saja sehingga anak lain yang beda  gaya belajarnya belum bisa menangkap apa yang kita ajarkan. Di sinilah  kreatifitas seorang guru dipertaruhkan.

Mengajar bukan lagi kata yang pas di kelas, tapi mulailah dengan membelajarkan  anak didik kita. Dengan begitu mereka sendiri yang merasa butuh dengan ilmu sehingga dengan sendirinya mereka akan belajar sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Tanyalah pada mereka “What will you learn today” saat mereka memulai harinya di sekolah dan tanyalah juga “What have you learn today?” saat mereka akan pulang. Dengan begitu mereka mengerti maksud mereka datang ke sekolah.

Semoga kita belum terlambat untuk mengubah paradigma mendidik kita.

About Blognya Nita

Just ordinary women who concern about social life and love her family so much.

Posted on 9 July 2011, in pendidikan and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. isi blognya bagus2 buuuuu, … ^_^

  2. Kesimpulan saya pendidikan di negara kita semakin amburadul, dengan adanya UN, pengalaman kerabat saya yang seorang guru mengatakan bahwa ia dengan terpaksa membantu anak-anak didiknya yang akan mengikuti UN untuk membuatkan jawaban dari soal2 UN supaya lulus, ini terjadi pada hampir semua sekolah di kota itu, Menurutnya lagi, UN tetap dilaksanakan (meskipun dari putusan Kasasi Mahkamah Agung pelaksanaan UN ini oleh pemerintah dikalahkan), dengan alasan karena sudah terlanjur ada tender dalam pelaksanaan UN ini yang nilainya ratusan milyar.
    Nah, sekarang apakah hanya karena uang ratusan M tersebut, akhlak bangsa harus dikorbankan? Apakah pemerintah peduli itu?????? Saya bukan dari kalangan pendidikan, tapi jujur saya prihatin dan kaget mendengarkan berita ini, sungguk menyedihkan, pendidikan di Indonesia sudah mati……

    Sekarang, Ayo hentikan UN sebagai penentu kelulusan siswa, SELAMATKAN GENERASI BANGSA….!!!!
    Reply

    Leave a Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: