Nyeruput Kopi Aming Pontianak

Ngopi di Aming Coffee (dok.yunisura)


Minggu, 4 Februari 2018, kami sekeluarga jalan-jalan ke Pontianak. Kali ini destinasi kami ialah Aming Coffee. Penasaran. Soalnya pak Jokowi juga ke sini. Sebelumnya, suami juga sudah ke sini dengan teman-temannya. Akhirnya, kami juga ngerasain sensasi nyeruput kopi khas Pontianak ini.

Jujur aja, kami sebenarnya bukan pecinta kopi. Juga ga hobi nongkrong di warung kopi. Kami ke sini cuma penasaran aja, sama kuliner khas Pontianak, Kalbar yang sampai dicicipi sama Pak Jokowi. Hehehe.

Nyicip kopi pakai roti di Aming Coffee Pontianak (dok.yunisura)

Kami pesan kopi susu. Fayad juga nyicip, tapi nggak habis. Pahit katanya. Namanya juga kopi Nak. Kayaknya kopi susu Aming, manisnya asli dari susu. Cita rasanya emang beda dengan nyeduh kopi sendiri. 

Selain kopi, di sini juga menyediakan makanan. Ada roti panggang srikaya yang gurih manis. Enak. Beneran enak. Murah pula. Hehehe. Cuma 5 ribu. Roti srikayanya recommended banget lah pokoknya. 

Kafe ini buka tiap hari mulai jam setengah enam pagi sampai jam 11 malam. Selalu full. Tapi kalau hari Minggu, hanya buka sampai jam 11 siang. Karyawan butuh istirahat juga. Ada banyak karyawan di sini. Mungkin ada 20 orang. Sibuk terus kelihatannya. 

Bubuk kopi Aming langsung giling (dok.yunisura)

Kalau mau bawa pulang kopi hubuk asli juga bisa. Langsung digiling di situ. Asli dari biji kopi. Ga dioplos. Ukurannya beda-beda. Paling kecil kayaknya ukuran 250 gram. Harganya Rp. 16.500,-. Kami beli emoat bungkus buat dikirim ke Bapak dan kawan di Jawa. Biar nyicip rasa khas kopi Pontianak yang aromanya….hmmm. 

Bagi yang penasaran, datang aja langsung deh ke sini. Alamatnya di jalan Setia Budi gang Haji Abbas Pontianak. Ga jauh dari jalan Gajah Mada. Selamat nyeruput kopi Aming.

Advertisements

Pesona Lemukutan Bikin Ketagihan

Main pelampung di Teluk Cina Lemukutan (dok.yunisura)

Akhir tahun 2017, kami ke Lemukutan lagi. Keindahan pulau kecil nan eksotis di sebelah barat Kalimantan ini, bikin kami ketagihan. Alhamdulillah keadaan laut yang tadinya kami kira tak bersahabat, ternyata aman.

Dalam perjalanan menuju Pulau Lemukutan. (Dok.yunisura)

Di akhir bulan Desember memang lebih banyak gelombang. Tapi alhamdulilah perjalanan lancar dan selamat. Sepanjang perjalanan disuguhi hamparan laut nan biru. Begitu indah.

Salah satu villa dibatas air di Teluk Cina Lemukutan (dok.yunisura)

Liburan di Lemukutan kali ini, kami habiskan di Teluk Cina dan Tanjung Porok. Saat perahu kami berlabuh di dermaga kayu pelabuhan teluk cina, laut biru nan elok menyambut kami. Semilir angin lembut, seolah menari-nari menghaturkan salam selamat datang.

Hari itu, kami menginap di villa  tanjung batu putih. Ada 18 kamar di sini. Setiap kamar punya teras. Harganya bervariasi. Yang paling murah harganya 250, dengan kamar mandi di luar. Yang kamarnya cukup luas dan kamar mandi di dalam, harganya 400 ribu. Makanan yang disuguhkan di villa ini enak banget. Per porsi makan hanya 20 ribu. Itu lauk dan sayurnya sudah mantap banget. Ada sambal cencalok belimbing wuluh mak nyus yang bikin kangen.

Menikmati sunrise di Lemukutan Kalbar (dok.yunisura)

Villa di tanjung porok ini, pantainya berbalut batuan koral yang sudah mati. Banyak pepohonan rindang termasuk pohon pala. Pantai yang biasanya panas, di sini terasa sejuk dan adem. Bisa pasang hamock di tepi pantai nan rindang.

villa tanjung batu putih di tanjung porok teluk cina Lemukutan (dok.yunisura)

Di pulau Lemukutan, listrik hanya ada mulai jam 5 sore sampai jam 6 pagi. Kalau siang, pulau ini nggak ada listrik. Jadi kalau mau foto-foto harus pastikan bahwa hp sudah full. 

Air laut yang jernih di Lemukutan Kalbar (dok.yunisura)

Sampai di pulau, pengennya langsung main air. Pantai di sini landai. Hati2 banyak karang ya. 

Balita juga menikmati berenang di pantai Lemukutan (dok.yunisura)

Buat kalian yang pengen tahu berapa ongkos yang harus disiapkan. Ini saya kasih gambarannya.

Tiket kapal pp Rp. 50.000,-
Penginapan Rp. 250.000,- (cukup buat 6 orang hehehe, kamar mandi di luar kamar)

Makan  (min. 3x) Rp 60.000,-

Sewa snorkling Rp. 20.000

Kalau main di laut jangan ganggu ikan-ikan atau makhluk hidup di sini ya. Kasihan kan kalo tempat hidup mereka rusak karena ulah wisatawan yang penasaran. Jaga juga kebersihan di pulau ini. Jangan asal buang sampah.

Di depan villa tanjung batu putih teluk cina Lemukutan (dok.yunisura)

Cuma beberapa meter dari bibir pantai udah bisa renang sama ikan-ikan cantik di karang. Kamu bisa ketemu ikan badut di rumah anemonnya. Ikan dori. Ikan belang hitam putih. Kerang kima yang unik, dan masih banyak lagi.

Kalau pengen sewa perahu ban juga bisa. Sewanya 50 ribu seharian. Saking jernihnya, ikan-ikan dan terumbu karang tampak dari atas air. Subhanallah. Kalau pakai alat snorkling lebih cantik lagi lihat di dalam.

Pokoknya, yang sudah pernah menikmati keindahan Lemukutan, pasti pengen balik lagi deh. Kita harus bangga dengan pariwisata dalam negeri kita yang kaya dengan nilai-nilainya. Maka dimana pun kita menjelajah di negeri tercinta ini, jangan lupa untuk selalu menghormati adat istiadat dan budaya yang dijunjung tinggi oleh penduduk setempat. Selamat berpetualang.

Menyebrangi Sungai Kapuas dengan Ferry

Di atas ferry penyebrangan di Pontianak (dok.yunisura)

Jumat, 1 Desember 2017, kami pergi ke Pontianak untuk takziyah. Berangkat dari Mempawah sekitar jam tujuh pagi. Karena belum sarapan kami mampir dulu ke pasar Mempawah untuk beli nasi kucing dan arem-arem.

Nasi kucing di Mempawah harganya Rp 2000, isinya nasi, mie goreng dan sambal goreng tempe kacang panjang. Cukuplah buat sarapan. Kalau arem-aremnya isi tempe. Harganya Rp1000,-. Enak.

Selama perjalanan Mempawah-Pontianak, banyak pemandangan menarik di masjid-masjid. Banyak muslim yang berkumpul di masjid untuk memperingati maulid Nabi Muhammad Saw. Ada masjid yang menggelar tikar dan menyusun berkat (makanan) secara teratur berjajar untuk para jamaah yang akan hadir. Ada masjid yang sedang berdoa bersama di halaman masjid, dan banyak lagi. Adat memperingati hari kelahiran Nabi saw di Mempawah memang masih lestari.

Dermaga penyebrangan ferry di Siantan (dok.yunisura)

Ketika sampai di daerah Siantan, kami memutuskan untuk mengambil jalur cepat menuju rumah yang akan dituju di Jeruju. Maka kami menyebrangi sungai Kapuas dengan Ferry. Kapal Ferry di Pontianak dikenal dengan sebutan pelampung.

Menikmati pemandangan sungai Kapuas Pontianak (dok.yunisura)

Dulu, sebelum jembatan Landak dan Kapuas dibangun, sarana yang digunakan untuk angkutan adalah angkutan air. Ada spit, kapal kayu berukuran kecil yang dipasangi mesin yang bisa mengangkut penumpang yang mau menyebrang ke Pontianak. Seiring berjalannya waktu, hadirlah Ferry. Kapal ini berukuran besar sehingga bisa ditumpangi oleh truk, mobil dan kendaraan lain.

Nyebrangnya cuma lima menit.  Untuk mobil pribadi bayarnya  Rp.25.000,-. Penumpangnya nggak usah bayar lagi. Kalau cuma penumpang aja, bayarnya Rp2000. Motor Rp.6000,-.

Menikmati pemandangan sungai dari atas Ferry (dok.yunisura)

Pemandangan kota Pontianak sudah nampak dari dermaga penyebrangan di Siantan. Bagus banget, apalagi di samping dermaga Pontianak di seberang sungai Kapuas, ada Taman Alun Kapuas yang oke banget. Ada air mancur, kapal wisata keliling sungai dan waterfront sungai Kapuas.

Fasilitas di bagian atas Ferry penyebrangan (dok.yunisura)

Di atas kapal juga ada fasilitas tempat duduk untuk para penumpang ada sofa, kafe, tv, dan toilet. Selama kapal menyebrang, kita bisa duduk-duduk santai di atas Ferry sambil menikmati view sungai Kapuas dan kota Pontianak dari atas Ferry. Asyik banget deh.