Pesona Lemukutan Bikin Ketagihan

Main pelampung di Teluk Cina Lemukutan (dok.yunisura)

Akhir tahun 2017, kami ke Lemukutan lagi. Keindahan pulau kecil nan eksotis di sebelah barat Kalimantan ini, bikin kami ketagihan. Alhamdulillah keadaan laut yang tadinya kami kira tak bersahabat, ternyata aman.

Dalam perjalanan menuju Pulau Lemukutan. (Dok.yunisura)

Di akhir bulan Desember memang lebih banyak gelombang. Tapi alhamdulilah perjalanan lancar dan selamat. Sepanjang perjalanan disuguhi hamparan laut nan biru. Begitu indah.

Salah satu villa dibatas air di Teluk Cina Lemukutan (dok.yunisura)

Liburan di Lemukutan kali ini, kami habiskan di Teluk Cina dan Tanjung Porok. Saat perahu kami berlabuh di dermaga kayu pelabuhan teluk cina, laut biru nan elok menyambut kami. Semilir angin lembut, seolah menari-nari menghaturkan salam selamat datang.

Hari itu, kami menginap di villa  tanjung batu putih. Ada 18 kamar di sini. Setiap kamar punya teras. Harganya bervariasi. Yang paling murah harganya 250, dengan kamar mandi di luar. Yang kamarnya cukup luas dan kamar mandi di dalam, harganya 400 ribu. Makanan yang disuguhkan di villa ini enak banget. Per porsi makan hanya 20 ribu. Itu lauk dan sayurnya sudah mantap banget. Ada sambal cencalok belimbing wuluh mak nyus yang bikin kangen.

Menikmati sunrise di Lemukutan Kalbar (dok.yunisura)

Villa di tanjung porok ini, pantainya berbalut batuan koral yang sudah mati. Banyak pepohonan rindang termasuk pohon pala. Pantai yang biasanya panas, di sini terasa sejuk dan adem. Bisa pasang hamock di tepi pantai nan rindang.

Di pulau Lemukutan, listrik hanya ada mulai jam 5 sore sampai jam 6 pagi. Kalau siang, pulau ini nggak ada listrik. Jadi kalau mau foto-foto harus pastikan bahwa hp sudah full. 

Air laut yang jernih di Lemukutan Kalbar (dok.yunisura)

Sampai di pulau, pengennya langsung main air. Pantai di sini landai. Hati2 banyak karang ya. 

Balita juga menikmati berenang di pantai Lemukutan (dok.yunisura)

Buat kalian yang pengen tahu berapa ongkos yang harus disiapkan. Ini saya kasih gambarannya.

Tiket kapal pp Rp. 50.000,-
Penginapan Rp. 250.000,- (cukup buat 6 orang hehehe, kamar mandi di luar kamar)

Makan  (min. 3x) Rp 60.000,-

Sewa snorkling Rp. 20.000

Kalau main di laut jangan ganggu ikan-ikan atau makhluk hidup di sini ya. Kasihan kan kalo tempat hidup mereka rusak karena ulah wisatawan yang penasaran. Jaga juga kebersihan di pulau ini. Jangan asal buang sampah.

Di depan villa tanjung batu putih teluk cina Lemukutan (dok.yunisura)

Cuma beberapa meter dari bibir pantai udah bisa renang sama ikan-ikan cantik di karang. Kamu bisa ketemu ikan badut di rumah anemonnya. Ikan dori. Ikan belang hitam putih. Kerang kima yang unik, dan masih banyak lagi.

Kalau pengen sewa perahu ban juga bisa. Sewanya 50 ribu seharian. Saking jernihnya, ikan-ikan dan terumbu karang tampak dari atas air. Subhanallah. Kalau pakai alat snorkling lebih cantik lagi lihat di dalam.

Pokoknya, yang sudah pernah menikmati keindahan Lemukutan, pasti pengen balik lagi deh. Kita harus bangga dengan pariwisata dalam negeri kita yang kaya dengan nilai-nilainya. Maka dimana pun kita menjelajah di negeri tercinta ini, jangan lupa untuk selalu menghormati adat istiadat dan budaya yang dijunjung tinggi oleh penduduk setempat. Selamat berpetualang.

Advertisements

Menyebrangi Sungai Kapuas dengan Ferry

Di atas ferry penyebrangan di Pontianak (dok.yunisura)

Jumat, 1 Desember 2017, kami pergi ke Pontianak untuk takziyah. Berangkat dari Mempawah sekitar jam tujuh pagi. Karena belum sarapan kami mampir dulu ke pasar Mempawah untuk beli nasi kucing dan arem-arem.

Nasi kucing di Mempawah harganya Rp 2000, isinya nasi, mie goreng dan sambal goreng tempe kacang panjang. Cukuplah buat sarapan. Kalau arem-aremnya isi tempe. Harganya Rp1000,-. Enak.

Selama perjalanan Mempawah-Pontianak, banyak pemandangan menarik di masjid-masjid. Banyak muslim yang berkumpul di masjid untuk memperingati maulid Nabi Muhammad Saw. Ada masjid yang menggelar tikar dan menyusun berkat (makanan) secara teratur berjajar untuk para jamaah yang akan hadir. Ada masjid yang sedang berdoa bersama di halaman masjid, dan banyak lagi. Adat memperingati hari kelahiran Nabi saw di Mempawah memang masih lestari.

Dermaga penyebrangan ferry di Siantan (dok.yunisura)

Ketika sampai di daerah Siantan, kami memutuskan untuk mengambil jalur cepat menuju rumah yang akan dituju di Jeruju. Maka kami menyebrangi sungai Kapuas dengan Ferry. Kapal Ferry di Pontianak dikenal dengan sebutan pelampung.

Menikmati pemandangan sungai Kapuas Pontianak (dok.yunisura)

Dulu, sebelum jembatan Landak dan Kapuas dibangun, sarana yang digunakan untuk angkutan adalah angkutan air. Ada spit, kapal kayu berukuran kecil yang dipasangi mesin yang bisa mengangkut penumpang yang mau menyebrang ke Pontianak. Seiring berjalannya waktu, hadirlah Ferry. Kapal ini berukuran besar sehingga bisa ditumpangi oleh truk, mobil dan kendaraan lain.

Nyebrangnya cuma lima menit.  Untuk mobil pribadi bayarnya  Rp.25.000,-. Penumpangnya nggak usah bayar lagi. Kalau cuma penumpang aja, bayarnya Rp2000. Motor Rp.6000,-.

Menikmati pemandangan sungai dari atas Ferry (dok.yunisura)

Pemandangan kota Pontianak sudah nampak dari dermaga penyebrangan di Siantan. Bagus banget, apalagi di samping dermaga Pontianak di seberang sungai Kapuas, ada Taman Alun Kapuas yang oke banget. Ada air mancur, kapal wisata keliling sungai dan waterfront sungai Kapuas.

Fasilitas di bagian atas Ferry penyebrangan (dok.yunisura)

Di atas kapal juga ada fasilitas tempat duduk untuk para penumpang ada sofa, kafe, tv, dan toilet. Selama kapal menyebrang, kita bisa duduk-duduk santai di atas Ferry sambil menikmati view sungai Kapuas dan kota Pontianak dari atas Ferry. Asyik banget deh.

 

 

Menghadiri Seminar Pendidikan Berbasis Evaluasi Prof. Kumaidi, Ph.D

Prof. Kumaidi saat sharing ilmu di Pontianak (dok.yunisura)

Sabtu, 25 November 2017, saya menghadiri seminar pendidikan dengan tema Pendidikan Berbasis Evaluasi di IAIN Pontianak. Narasumber pada seminar ini ialah ketua perhimpunan evaluasi pendidikan seluruh Indonesia Prof. Kumaidi, Ph.D.

Prof. Kumaidi asli Solo. Tinggalnya di Klaten. Saat ini beliau adalah guru besar di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Beliau S1 jurusan teknik Mesin di UNY Yogyakarta, dan mengambil gelar master dan Ph.D di IOWA USA jurusan statistika.

Dalam seminar ini Prof. Kumaidi banyak menceritakan nilai-nilai kehidupan yang beliau jalani dari awal perjalanan akademiknya. Banyak perjuangan dan pengorbanan yang beliau jalani.

Materi tentang evaluasi dalam pendidikan beliau sisipkan di sela-sela cerita beliau. Dari seminar ini ada satu yang nyantol di ingatan. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya remidi yang dilakukan guru di sekolah, seharusnya bukan dengan ujian ulang dengan kualitas kesukaran soal yang lebih rendah. Tapi seharusnya para murid yang tidak mencapai nilai target ini dibimbing ulang. Diajari lagi, materi yang belum dikuasainya sampai paham, agar belajar dari kesalahan itu. Tapi praktiknya hal ini sulit dilakukan.

Selfie bareng Prof. Kumaidi, semoga saya ketularan jadi profesor, amin (dok.yunisura)

Seru banget deh ikut seminar ini. Jadi menambah cakrawala pengetahuan di bidang evaluasi pendidikan. Usai acara, saya izin selfie dengan beliau. Buat kenang-kenangan. Siapa tahu nanti di Solo ketemu lagi. Saya kan juga wong Solo.