Yang Disayangkan dari Solo Batik Carnival (SBC) 2011

Sejak pagi hari Sabtu (26/6/2011), saya menjaga stan President Brankas di Diamond Solo Convention Center, sambil sesekali mengikuti talk show yang diselenggarakan Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI). Lokasi itu berada di Jalan Slamet Riyadi yang dijadikan rute Solo Batik Carnival (SBC) 2011. Dengan demikian, saya cukup tahu perkembangan jalan sejak pagi yang masih digunakan lalu lintas kendaraan sampai sore harinya jalanan itu ditutup dan bakda Maghrib mulai didatangi warga.

Ketika pukul 18.00 saya membeli makanan di warung depan Diamond Hotel Solo, jalanan masih longgar. Warga Solo mulai berdatangan. Tampak di antara mereka duduk-duduk di pinggiran jalan. Tentu mereka berharap posisi itu cukup strategis sehingga bisa menikmati karnaval batik setahun sekali itu.

Sekitar pukul 19.15 saya bersama suami, anak dan ponakan kembali menuju halaman Diamond Hotel Solo, persis di sebelah panggung tamu VIP. Saat itu saya mulai kecewa dengan penyelenggaraan karnaval. Saya sama sekali tak bisa melihat apa yang terjadi di jalanan. Semua warga berdiri memadati jalanan. Bahkan ada ibu-ibu yang terpaksa naik di atas pagar hotel supaya bisa melihat pemandangan di jalanan. Padahal pawai batik belum dimulai.

Memang benar ini menunjukkan antusiasme yang tinggi dari masyarakat, namun seharusnya panitia mampu menertibkan penonton sehingga karnaval bisa dinikmati dengan baik. Kalau orang tua saja kesulitan melihat pemandangan apalagi anak-anak. Seharusnya panitia membuat aturan bahwa semua penonton wajib duduk di bawah.

Begitu iring-iringan pawai mulai melintasi tempat saya berdiri, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Saya tak bisa melihat apa-apa, kecuali kepala penonton yang berdiri. Saya tak melihat yang mana Nadine Alexandra Dewi Ames (Putri Indonesia 2010), Reisa Kartikasari (Putri Indonesia Lingkungan Hidup 2010) dan Alessandra Khadijah Usman (Putri Indonesia Pariwisata 2010).

Suami saya sempat mendekat dengan menggendong ponakan yang berumur 5 tahun. Tapi 5 menit kemudian sudah mundur ke belakang. Kenapa? Takut terjepit di antara kerumunan orang banyak, katanya.

Saya lihat ada aparat keamanan yang dilibatkan pada karnaval itu. Namun mereka tak berdaya menghadapi lautan massa yang berjubel memenuhi jalanan. Meskipun berkali-kali diingatkan panitia melalui microfon agar penonton minggir, sama sekali peringatan itu tak diindahkan. Semua ingin mendekat dan semua ingin mengabadikan momentum bersejarah itu. Akibatnya, ada sebagian penonton yang berhasil mendapatkan gambar putri-putri cantik karena berani nekat mendekat persis di samping peserta pawai, tapi penonton yang lain tidak mendapatkan apa-apa. Jangankan memoto, melihat putri-putri cantik saja, tidak. “Begini koq momen untuk meningkatkan citra Kota Solo di tingkat internasional, menertibkan penonton saja tak mampu,” kata saya kepada suami malam itu.

Harapan saya untuk kegiatan serupa yang akan datang, supaya panitia menertibkan penonton. Jangan ada yang berdiri. Semua penonton wajib duduk sepanjang jalan yang dilalui karnaval. Biarlah karnaval dinikmati oleh semua warga di segala tingkatan: tua, muda dan anak-anak. Dan biarlah semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mengambil gambar tanpa terhalang oleh kepala penonton yang lain.

(artikel ini saya ambil dari tulisan saya di kompasiana yang asli lihat  disini)

 

About Blognya Nita

Just ordinary women who concern about social life and love her family so much.

Posted on 28 June 2011, in Seputar Solo and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: