Pendidikan Berbasis Kejujuran

Kawasan Dilarang Berbohong

Entah disadari atau tidak, kita sering membohongi anak saat usianya di puncak golden age (usia emas). Kita anggap berbohong pada anak adalah hal yang wajar karena ia belum mengerti baik dan buruk. Kita tahu berbohong itu dosa, tapi kalau kita lakukan kepada anak-anak kecil, kita anggap itu bukan dosa. Jika Anda termasuk yang berpikiran demikian, segera ubahlah mindset Anda.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amir, ia berkata, “Suatu hari ibuku memanggilku dan Rasulullah ada di rumahku. Ibuku berkata, sini Nak, Ibu mau kasih sesuatu kepadamu. Rasulullah lalu bertanya kepada ibuku, apa yang hendak kau berikan kepada anakmu. Ibuku menjawab, aku mau kasih dia sebutir kurma. Mendengar jawaban itu, Rasulullah berkata: jika ternyata kamu tidak jadi memberi kurma kepadanya, maka kamu akan dicatat sebagai pembohong (pendusta)”.

Abu Hurairah dalam hadits lainnya meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berkata kepada anak kecil, ke sinilah, aku akan beri sesuatu. Kemudian anak kecil itu datang tapi tak jadi diberi sesuatu maka perbuatan itu masuk kategori pembohongan”.

Dari dua hadits ini, Rasulullah mengingatkan bahwa jika kita berkata bohong atau dusta kepada anak kecil, maka itu masuk dalam kategori bohong atau dusta. Jangan karena ia anak kecil, kita bisa seenaknya berbohong. Sadarlah bahwa itu tetap dosa. Dosa akibat membohongi anak kecil setara dengan dosa akibat membohongi orang dewasa. Karena itu, kita mesti berhati-hati apabila berbicara kepada anak kecil. Dusta tetaplah dusta, tak memandang pada siapa yang kita bohongi: anak kecil, dewasa, atau hewan sekalipun.

Terkadang kita berbohong untuk menghentikan tangis anak atau membujuknya agar mau mengikuti apa yang kita inginkan. Kadang saat anak susah makan, kita bohongi dia dengan janji, kalau mau makan nanti diajak ini, kalau makan nanti dibelikan itu, tapi janji-janji itu hanyalah omong kosong belaka.

Cara mendidik anak dengan metode berbohong perlu diakhiri. Anak harus dididik dengan kejujuran. Sampaikan apa adanya, katakan sejujurnya! Janganlah berjanji yang tidak-tidak kalau memang tak pernah berniat menepatinya. Janganlah anak diberi jawaban yang mengada-ngada setiap kali ia bertanya.

Dengan bekal kejujuran dari kecil, anak akan tumbuh sebagai pribadi yang jujur. Ia tak akan berkata dusta karena kosakata itu tak pernah dikenalnya. Ia tak akan berbohong karena itu dianggap menciderai kepribadiannya.

Anak yang berkepribadian jujur tak akan mau menyontek di sekolah, walaupun guru pengawas tak melihatnya. Menyontek baginya adalah perbuatan tercela karena mengakui sesuatu yang bukan miliknya, dan itu suatu kebohongan. Ia hanya ingin lulus dari hasil belajarnya sendiri. Kalau memang kenyataannya ia tidak bisa mengerjakan soal ujian, berarti ia belum layak lulus dan perlu belajar lagi.

Anak yang jujur, begitu lulus sekolah atau kuliah lalu mencari pekerjaan, ia tak akan mau melakukan cara-cara yang tidak terpuji karena cara seperti itu tak pernah ia kenal. Ia tak mau mengeluarkan jutaan rupiah untuk menyogok atau menyuap, karena itu berarti mengambil jatah orang lain yang lebih berhak.

Jika kemudian anak itu menjadi ilmuwan, ulama, kyai atau guru, maka ia akan bersikap dan berperilaku jujur. Ketika ia ditanya suatu pertanyaan, lalu ia tidak bisa menjawab, maka ia akan mengatakan dengan sejujurnya bahwa ia tidak tahu. Ia tidak mau mengarang-ngarang jawaban yang tidak benar demi menjaga gengsi atau malu. Hal demikian seperti dicontohkan oleh para ulama terdahulu.

Imam Malik pernah ditanya 48 pertanyaan, tapi guru Imam Syafi’i itu menjawab 32 pertanyaan dengan jawaban “saya tidak tahu”. Ulama lain, bernama Sya’bi, pernah juga ditanya suatu masalah tapi ia menjawab tidak tahu. Lalu dikatakan kepadanya, “Apakah Anda tidak malu menjawab tidak tahu?” Sya’bi berkata, “Kenapa saya harus malu padahal malaikat saja tidak malu menjawab La ‘Ilma Lana (kami tidak tahu)”. Yaitu ketika malaikat disuruh oleh Allah untuk menyebutkan nama benda-benda, sebagaimana diabadikan dalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah : Ayat 31-32.

Jika anak itu memilih dagang sebagai profesinya, maka ia akan menjadi pedagang yang jujur. Ia tidak akan menipu pembeli. Bila dalam dagangannya ada aib atau cacat, ia akan sampaikan apa adanya. Ia tidak mau masuk kategori al-Bayya’ al-Hallaf (penjual yang suka mengobral sumpah). Misalnya dengan mengatakan “Wallahi ini bagus, ini luar biasa”, demi menarik simpati pembeli.

Demikian halnya ketika anak itu menjadi pemimpin negara atau daerah, ia akan menjunjung tinggi kejujuran selama menjabat. Ia akan realisasikan janji-janji yang pernah ia sampaikan saat kampanye. Ia tak mau mengkorupsi uang rakyat karena itu adalah sebuah pengkhianatan. Menjadi hakim pun, ia akan berlaku jujur. Yang benar akan dimenangkan dan yang salah akan dijatuhi hukuman. Ia akan putuskan perkara secara adil tanpa memandang bulu orang yang beperkara, apakah orang kaya atau miskin.

Itulah gambaran dari hasil pendidikan yang dipondasi dengan kejujuran. Menjadi apapun anak itu akan tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran. Harta termahal yang dimilikinya adalah kejujuran, dan itu akan selalu dijaganya.

About Blognya Nita

Just ordinary women who concern about social life and love her family so much.

Posted on 18 July 2011, in belajar islam. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Sayangnya akibat kebijakan pemerintah, secara langsung maupun tidak langsung, kebohongan telah diajarkan kepada hampir seluruh anak-anak Indonesia, berdasar pengakuan kerabat saya yang seorang guru yang menyatakan bahwa ia terpaksa membantu anak-anak didiknya yang mengikuti Ujian Nasional supaya lulus, dan ini terjadi di hampir seluruh sekolah di kota itu,
    Alasan diadakannya UN hanya karena sdh terlanjur ada tender proyek dengan nilai hanya ratusan milyar, maka seluruh anak-anak Indonesia menjadi korbannya, Kejujuran mereka jauh labih mahal dari sekedar tender proyek tersebut, Andai pemerintah membuka mata……
    Ayo hentikan UN sebagai penentu kelulusan siswa, SELAMATKAN GENERASI BANGSA….!!!!

  2. subhanallah…..^^
    aq jd inget ank yg pertama,,umminya sll janjiin sst
    insyaAllah:)

  3. Menginspirasi…,

  4. kejujuran memang harus dipelajari dari hal yg terkecil. terbiasa jujur atau suka berbohong adalah sifat yg melekat pada diri seseorang, baik karena binaan atau pun mungkin karena “bawaan”. bila disadari bahwa anak akan belajar tentang kejujuran atau pun kebohongan dari orang tuanya, maka sepatutnya orang tua mempelajari dan membiasakan kejujuran itu dari cara mendidik anak2nya. dengan cara itulah kita masih bisa berharap untuk menciptakan masyarakat yg baik dengan mengajarkan kebaikan (kejujuran) sejak dini…

  5. Kejujuran memang susah sekali kita terapkan,terutama pada saat ulangan / ujian, tapi kalau kita mau mulai dari diri sendiri , tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semoga Allah selalu membimbing kita untuk dapat berlaku jujur dan mengajarkan kejujuran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: