“Ma…Ma..Burung Ababil Kok Nggak Kepanasan?”

Aku termasuk ibu yang suka mendongeng untuk anakku sebelum dia tidur. Biasanya cerita yang paling sering aku dongengkan adalah kisah para nabi. Selain untuk mengenalkan tentang keEsaan Allah, anakku bisa mengenal perjalanan dan perjuangan para Nabi untuk menegakkan islam di muka bumi.

Nah,  aku nggak pingin mendongeng tentang para Nabi di sini, tapi bercerita tentang reaksi-reaksi yang selalu ditimbulkan anakku kalau sedang mendengarkan dongeng  sebelum tidurnya.

Beberapa hari ini dia paling suka me-request kisah tentang kelahiran Nabi Muhammad. Maka mulailah aku bercerita dari kisah  dimana pasukan Abrahah yang berkekuatan puluhan gajah ingin menghancurkan Ka’bah di Mekkah. Sebagaimana dari cerita dalam surat Al Fill, pasukan gajah itu akhirnya berhasil ditekuk mundur berkat bantuan Allah yang mengirim bantuan berupa serbuan burung Ababil yang melemparkan batuan panas yang sumbernya dari neraka kepada pasukan gajah itu.

Di saat aku mulai mendramatisir suasana saat burung-burung itu melemparkan bebatuan panas tersebut, seketika anak lelakiku itu memutus cerita untuk mengutarakan satu pertanyaan yang tidak pernah kuduga “Ma..ma…kok burungnya nggak kepanasan megang batunya, kan batunya panas” Subhanallah, aku nggak pernah kepikiran kalau dia sampai mengkhawatirkan nasib para burung Ababil itu.

Anak-anak, kadang sering  berpikir apa yang tidak pernah sama sekali kita pikirkan. Aku nggak punya jawaban yang pasti tentang bagaimana keadaan burung Ababil itu sebenarnya karena Al Quran tidak menjelaskan secara detail nasib burung Ababil ini, benarkah mereka tidak kepanasan ketika membawa bebatuan panas yang dilemparkan ke pasukan gajah. Karena kalau dipikir-pikir, kasihan juga si burung, lah wong gajah aja mati gara-gara kesamber batu panas itu, bagaimana dengan si burung yang jauh-jauh membawa batu itu di tangannya.

Tapi ketika saya kembalikan pertanyaan itu kepada jawaban atas kekuasaan Allah sehingga tangan-tangan para burung itu telah tahan panas atas izin Allah, anakku pun  menerima dan semakin memahami tentang betapa Maha Kuasanya Allah, Tuhan yang telah menciptakannya di dalam perut ibunya selama 9 bulan, mama dan babanya dan semua mahkluk di jagad raya ini, sehingga mudah bagi Allah untuk menjadikan batu-batu itu tak terasa panasnya oleh para burung Ababil sebagaimana Allah menyuruh api untuk menjadi dingin ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh kaumnya. Maha Besar Allah dengan segala kekuasaan-Nya.

About Blognya Nita

Just ordinary women who concern about social life and love her family so much.

Posted on 30 July 2011, in parenting, tentang anak usia dini and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: