Jokowi, Sosok Inspiratif dari Solo

Jokowi saat jadi walikota Solo di Car Free Day Slamet Riyadi. (dok. blognya anita)

Jokowi saat jadi walikota Solo di Car Free Day Slamet Riyadi. (dok. blognya anita)

 

Awal kekagumanku pada pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 ini berawal dari cerita saudaraku yang tinggal di Solo. Awalnya aku nggak terlalu peduli dengan perubahan yang terjadi di kota Surakarta. Tapi setelah mendengar cerita kekaguman yang sama dari beberapa orang Solo, aku mulai perhatian pada bapak berusia 52 tahun ini.

Saat menginjakkan kaki kembali di tanah air pada tahun 2009. Solo adalah kota pertama yang aku singgahi setelah Karawang. Di sana aku bertemu pertama kalinya dengan keluarga suamiku. Kenangan itu tidak akan hilang sampai kapan pun. Kedua kalinya aku datang ke Solo adalah saat adik iparku melahirkan anak kedua mereka. Saat itulah aku mendengar komentar-komentar baik terhadap kepemimpinan Pak Jokowi.

Kata saudaraku, setelah ada Jokowi, Solo berubah menjadi lebih indah. Kota Solo ditata rapi dan mulai menghijau dengan banyaknya taman. Dan yang lebih dahsyat lagi adalah saat Pak Jokowi berhasil merelokasi para PKL dengan cara yang elegan tanpa paksaan. Bahkan mereka melakukan arak-arak budaya dengan menggunakan pakaian adat saat para PKL itu pindah ke Pasar Klitikan Semanggi.

PKL memang selalu menjadi momok bagi kota di Negara-negara berkembang terutama Indonesia. Jumlahnya yang banyak dan tak teratur telah merubah citra kota menjadi terkesan kumuh. Begitu pula yang dialami Solo. Banyak PKL yang menjamur di jalan arteri kota dan fasilitas-fasilitas umum, sehingga menutupi keindahan yang Solo miliki.

Contohnya saja, tugu-tugu bersejarah Solo, yang seharusnya terlihat sakral menjadi tak bernilai karena dikelilingi oleh para PKL. Namun setelah Jokowi memimpin Solo sedikit demi sedikit wajah Solo tampak memancarkan pesonanya.

Akhirnya ketertarikan saya pada Jokowi tersambut dengan adanya gebrakan beliau terhadap esemka. Nama beliau kian melambung dan tersibaklah keistimewaan yang dimiliki suami dari Iriana Jokowi ini. Solo menjadi magnet tersendiri bagi wartawan untuk meliput berita. Kemudian setiap langkah yang Jokowi lakukan, menjadi episentrum pemberitaan media.

Sepak terjangnya di dunia pemerintahan dan perubahan-perubahan yang digagasnya bagi kota Solo menjadi trend mode di dunia birokrasi. Sikapnya yang mau turun ke bawah, gaya blusukannya, dan keramahannya dan ketegasannya dalam memimpin menjadi sosok inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jokowi hanya beberapa meter saja. (dok. yunisura)

Jokowi hanya beberapa meter saja. (dok. yunisura)

Indonesia saat ini sedang haus sosok pemimpin yang bisa memberikan perubahan dan mengayomi rakyatnya. Sehingga ketika nama Jokowi muncul dengan berbagai pesonanya, rakyat dan terutama saya menjadi orang yang selalu haus akan beritanya setiap hari. Apa yang dilakukannya hari ini, kemana sekarang beliau blusukkan, perubahan apa lagi yang akan beliau gagas, menjadi sesuatu yang amat dirindukan.

Saat Car Free Day di jalan Slamet Riyadi Solo, akhirnya kami bisa bertemu. Saat itu beliau baru pulang jalan-jalan naik sepeda tanpa pengawalan. Seperti orang biasa saja, sampai orang nggak akan ngira kalau itu walikota Solo yang terenal itu. Suami saya menghampiri beliau dan ngobrol. Saya diajak juga untuk berfoto, tapi entah kenapa kok saat itu saya nggak mau. Saat itu suami saya bilang “Mumpung Jokowi masih gampang ditemui loh, nanti kalau sudah jadi presiden sudah susah ngajak foto barengnya”. Kira-kira begitu kata suami saya. Dan benarlah sekarang Jokowi sudah jadi orang terkenal dan menjadi pembicaraan banyak pakar dalam kaitan pencalonannya sebagai presidrn pada tahun 2014.

suami saya berfoto dengan jokowi di Lodji Gandrung

suami saya berfoto dengan jokowi di Lodji Gandrung

Wah kalau nanti Jokowi beneran jadi presiden, bener-bener susah ketemunya. Akhirnya saya jadi menyesal nggak foto bareng beliau, Padahal jarak kami saat itu hanya satu meter.

About Blognya Nita

Just ordinary women who concern about social life and love her family so much.

Posted on 10 October 2013, in opini, peristiwa, Seputar Solo and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: