Monthly Archives: April 2018

KH. Taufiqqurrahman Muchit Al-Mursyid Dakwah di Mempawah

KH. Taufiqqurrahman memberikan tausiyah isra mi’raj di Masjid Sabilul Muhtadin Mempawah (dok.yunisura)

Rasanya seperti mimpi, abah KH. Taufiqqurrahman Muchit Al-Mursyid datang ke rumah kami di kota kecil pesisir Kalimantan Barat, Mempawah. Subhanallah, Allah SWT telah merancang pertemuan kami dengan sangat indah.

Berawal dari kerinduanku kepada Abah yang telah mendidikku tiga tahun di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang. Betapa tidak, beliau lah yang menggemblengku untuk menjadi seorang muslimah yang berilmu dan taat beribadah. Setiap hari shalat berjamaah lima waktu, mulai subuh, zuhur, ashar, maghrib, isya. Setiap sepertiga malam dibangunkan shalat tahajjud. Setiap pagi diajari kitab-kitab agama Islam, dari tafsir jalalain, bulughul marom, riyadhus solihin, adabul alim wal muta’allim dan masih banyak lagi. Setiap hari ngaji Qur’an disimak langsung oleh abah setelah sholat Zuhur. Setiap minggu setoran hafalan Qur’an. Setiap malam Jumat dilatih hidup bersih dengan kerja bakti membersihkan pondok. Setiap Ramadan ngaji kitab-kitab hadis, pagi siang malam. Dan banyak lagi.

Meskipun kami mengantuk saat ngaji kitab, meski kami sering kejar-kejaran saat diobraki shalat tahajjud, meski kami malas disuruh jamaah tiap hari. Meski kami lelah melakukan rutinitas di pondok. Tapi ternyata didikan itu sangat membekas dalam jiwa kami. Dan kami sangat sayang Abah Taufiq.  

14 tahun berlalu, semenjak dilepas abah menuju medan perjuangan kehidupan yang sesungguhnya. Kemarin, 9 April 2018, akhirnya Allah mempertemukan guru dan murid yang kini tinggal di pesisir pelosok Kalimantan Barat ini dengan amat mengharukan. 

Awalnya kerinduanku ini, aku wujudkan dengan mengirim kue khas Kalbar amplang dan kopi aming. Ternyata seminggu setelah paketanku sampai, abah hendak pergi ke Ketapang Kalbar untuk memenuhi undangan salah satu keluarga santri. Melihat alamatku di paketan juga di Kalbar, ibu memanggil santri untuk menghubungiku lewat email. Beliau menawarkan kepadaku apa mau disambangi. Tentu saja aku mau. Akhirnya, bertemulah aku, abah dan ibu pada Senin, 9 April 2018 di rumah Mempawah. Sungguh besar nikmat Allah yang mengobati rasa rinduku pada abah dengan mempertemukanku langsung dengan abah Kyai.

Kedatangan Abah Kyai Taufiqurrahman yang istimewa ini, membuatku berinisiatif untuk mengadakan peringatan isra mi’raj di masjid komplek perumahan BTN Korpri Mempawah yang disambut baik oleh warga perumahan dan sekitarnya. Meski hujan lebat mengguyur warga tetap datang untuk memeriahkan peringatan isra mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Alhamdulillah, acara terlaksana dengan baik. Setelah acara, anak-anak kecil berebut minum air dari gelas abah termasuk anakku Fayad. Persis ibunya dulu waktu mondok hehehe.  Semoga mendapat berkah sang Kyai. Amiin. 

Akhirnya pagi ini, setelah menginap di rumah mempawah, abah dan ibu kembali ke Jombang. Sungguh aku sangat bahagia. Semoga didikan yang Abah berikan padaku, dapat menjadikanku pribadi muslimah yang sholihah dan muslihah. Amiin.

Advertisements

KH. Taufiqqurrahman Muchit Al-Mursyid Dakwah di Mempawah

KH. Taufiqqurrahman memberikan tausiyah isra mi’raj di Masjid Sabilul Muhtadin Mempawah (dok.yunisura)

Rasanya seperti mimpi, abah KH. Taufiqqurrahman Muchit Al-Mursyid datang ke rumah kami di kota kecil pesisir Kalimantan Barat, Mempawah. Subhanallah, Allah SWT telah merancang pertemuan kami dengan sangat indah.

Berawal dari kerinduanku kepada Abah yang telah mendidikku tiga tahun di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang. Betapa tidak, beliau lah yang menggemblengku untuk menjadi seorang muslimah yang berilmu dan taat beribadah. Setiap hari shalat berjamaah lima waktu, mulai subuh, zuhur, ashar, maghrib, isya. Setiap sepertiga malam dibangunkan shalat tahajjud. Setiap pagi diajari kitab-kitab agama Islam, dari tafsir jalalain, bulughul marom, riyadhus solihin, adabul alim wal muta’allim dan masih banyak lagi. Setiap hari ngaji Qur’an disimak langsung oleh abah setelah sholat Zuhur. Setiap minggu setoran hafalan Qur’an. Setiap malam Jumat dilatih hidup bersih dengan kerja bakti membersihkan pondok. Setiap Ramadan ngaji kitab-kitab hadis, pagi siang malam. Dan banyak lagi.

Meskipun kami mengantuk saat ngaji kitab, meski kami sering kejar-kejaran saat diobraki shalat tahajjud, meski kami malas disuruh jamaah tiap hari. Meski kami lelah melakukan rutinitas di pondok. Tapi ternyata didikan itu sangat membekas dalam jiwa kami. Dan kami sangat sayang Abah Taufiq.  

14 tahun berlalu, semenjak dilepas abah menuju medan perjuangan kehidupan yang sesungguhnya. Kemarin, 9 April 2018, akhirnya Allah mempertemukan guru dan murid yang kini tinggal di pesisir pelosok Kalimantan Barat ini dengan amat mengharukan. 

Awalnya kerinduanku ini, aku wujudkan dengan mengirim kue khas Kalbar amplang dan kopi aming. Ternyata seminggu setelah paketanku sampai, abah hendak pergi ke Ketapang Kalbar untuk memenuhi undangan salah satu keluarga santri. Melihat alamatku di paketan juga di Kalbar, ibu memanggil santri untuk menghubungiku lewat email. Beliau menawarkan kepadaku apa mau disambangi. Tentu saja aku mau. Akhirnya, bertemulah aku, abah dan ibu pada Senin, 9 April 2018 di rumah Mempawah. Sungguh besar nikmat Allah yang mengobati rasa rinduku pada abah dengan mempertemukanku langsung dengan abah Kyai.

Kedatangan Abah Kyai Taufiqurrahman yang istimewa ini, membuatku berinisiatif untuk mengadakan peringatan isra mi’raj di masjid komplek perumahan BTN Korpri Mempawah yang disambut baik oleh warga perumahan dan sekitarnya. Meski hujan lebat mengguyur warga tetap datang untuk memeriahkan peringatan isra mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Alhamdulillah, acara terlaksana dengan baik. Setelah acara, anak-anak kecil berebut minum air dari gelas abah termasuk anakku Fayad. Persis ibunya dulu waktu mondok hehehe.  Semoga mendapat berkah sang Kyai. Amiin. 

Akhirnya pagi ini, setelah menginap di rumah mempawah, abah dan ibu kembali ke Jombang. Sungguh aku sangat bahagia. Semoga didikan yang Abah berikan padaku, dapat menjadikanku pribadi muslimah yang sholihah dan muslihah. Amiin.