Category Archives: parenting

KH. Taufiqqurrahman Muchit Al-Mursyid Dakwah di Mempawah

KH. Taufiqqurrahman memberikan tausiyah isra mi’raj di Masjid Sabilul Muhtadin Mempawah (dok.yunisura)

Rasanya seperti mimpi, abah KH. Taufiqqurrahman Muchit Al-Mursyid datang ke rumah kami di kota kecil pesisir Kalimantan Barat, Mempawah. Subhanallah, Allah SWT telah merancang pertemuan kami dengan sangat indah.

Berawal dari kerinduanku kepada Abah yang telah mendidikku tiga tahun di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang. Betapa tidak, beliau lah yang menggemblengku untuk menjadi seorang muslimah yang berilmu dan taat beribadah. Setiap hari shalat berjamaah lima waktu, mulai subuh, zuhur, ashar, maghrib, isya. Setiap sepertiga malam dibangunkan shalat tahajjud. Setiap pagi diajari kitab-kitab agama Islam, dari tafsir jalalain, bulughul marom, riyadhus solihin, adabul alim wal muta’allim dan masih banyak lagi. Setiap hari ngaji Qur’an disimak langsung oleh abah setelah sholat Zuhur. Setiap minggu setoran hafalan Qur’an. Setiap malam Jumat dilatih hidup bersih dengan kerja bakti membersihkan pondok. Setiap Ramadan ngaji kitab-kitab hadis, pagi siang malam. Dan banyak lagi.

Meskipun kami mengantuk saat ngaji kitab, meski kami sering kejar-kejaran saat diobraki shalat tahajjud, meski kami malas disuruh jamaah tiap hari. Meski kami lelah melakukan rutinitas di pondok. Tapi ternyata didikan itu sangat membekas dalam jiwa kami. Dan kami sangat sayang Abah Taufiq.  

14 tahun berlalu, semenjak dilepas abah menuju medan perjuangan kehidupan yang sesungguhnya. Kemarin, 9 April 2018, akhirnya Allah mempertemukan guru dan murid yang kini tinggal di pesisir pelosok Kalimantan Barat ini dengan amat mengharukan. 

Awalnya kerinduanku ini, aku wujudkan dengan mengirim kue khas Kalbar amplang dan kopi aming. Ternyata seminggu setelah paketanku sampai, abah hendak pergi ke Ketapang Kalbar untuk memenuhi undangan salah satu keluarga santri. Melihat alamatku di paketan juga di Kalbar, ibu memanggil santri untuk menghubungiku lewat email. Beliau menawarkan kepadaku apa mau disambangi. Tentu saja aku mau. Akhirnya, bertemulah aku, abah dan ibu pada Senin, 9 April 2018 di rumah Mempawah. Sungguh besar nikmat Allah yang mengobati rasa rinduku pada abah dengan mempertemukanku langsung dengan abah Kyai.

Kedatangan Abah Kyai Taufiqurrahman yang istimewa ini, membuatku berinisiatif untuk mengadakan peringatan isra mi’raj di masjid komplek perumahan BTN Korpri Mempawah yang disambut baik oleh warga perumahan dan sekitarnya. Meski hujan lebat mengguyur warga tetap datang untuk memeriahkan peringatan isra mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Alhamdulillah, acara terlaksana dengan baik. Setelah acara, anak-anak kecil berebut minum air dari gelas abah termasuk anakku Fayad. Persis ibunya dulu waktu mondok hehehe.  Semoga mendapat berkah sang Kyai. Amiin. 

Akhirnya pagi ini, setelah menginap di rumah mempawah, abah dan ibu kembali ke Jombang. Sungguh aku sangat bahagia. Semoga didikan yang Abah berikan padaku, dapat menjadikanku pribadi muslimah yang sholihah dan muslihah. Amiin.

Advertisements

KH. Taufiqqurrahman Muchit Al-Mursyid Dakwah di Mempawah

KH. Taufiqqurrahman memberikan tausiyah isra mi’raj di Masjid Sabilul Muhtadin Mempawah (dok.yunisura)

Rasanya seperti mimpi, abah KH. Taufiqqurrahman Muchit Al-Mursyid datang ke rumah kami di kota kecil pesisir Kalimantan Barat, Mempawah. Subhanallah, Allah SWT telah merancang pertemuan kami dengan sangat indah.

Berawal dari kerinduanku kepada Abah yang telah mendidikku tiga tahun di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang. Betapa tidak, beliau lah yang menggemblengku untuk menjadi seorang muslimah yang berilmu dan taat beribadah. Setiap hari shalat berjamaah lima waktu, mulai subuh, zuhur, ashar, maghrib, isya. Setiap sepertiga malam dibangunkan shalat tahajjud. Setiap pagi diajari kitab-kitab agama Islam, dari tafsir jalalain, bulughul marom, riyadhus solihin, adabul alim wal muta’allim dan masih banyak lagi. Setiap hari ngaji Qur’an disimak langsung oleh abah setelah sholat Zuhur. Setiap minggu setoran hafalan Qur’an. Setiap malam Jumat dilatih hidup bersih dengan kerja bakti membersihkan pondok. Setiap Ramadan ngaji kitab-kitab hadis, pagi siang malam. Dan banyak lagi.

Meskipun kami mengantuk saat ngaji kitab, meski kami sering kejar-kejaran saat diobraki shalat tahajjud, meski kami malas disuruh jamaah tiap hari. Meski kami lelah melakukan rutinitas di pondok. Tapi ternyata didikan itu sangat membekas dalam jiwa kami. Dan kami sangat sayang Abah Taufiq.  

14 tahun berlalu, semenjak dilepas abah menuju medan perjuangan kehidupan yang sesungguhnya. Kemarin, 9 April 2018, akhirnya Allah mempertemukan guru dan murid yang kini tinggal di pesisir pelosok Kalimantan Barat ini dengan amat mengharukan. 

Awalnya kerinduanku ini, aku wujudkan dengan mengirim kue khas Kalbar amplang dan kopi aming. Ternyata seminggu setelah paketanku sampai, abah hendak pergi ke Ketapang Kalbar untuk memenuhi undangan salah satu keluarga santri. Melihat alamatku di paketan juga di Kalbar, ibu memanggil santri untuk menghubungiku lewat email. Beliau menawarkan kepadaku apa mau disambangi. Tentu saja aku mau. Akhirnya, bertemulah aku, abah dan ibu pada Senin, 9 April 2018 di rumah Mempawah. Sungguh besar nikmat Allah yang mengobati rasa rinduku pada abah dengan mempertemukanku langsung dengan abah Kyai.

Kedatangan Abah Kyai Taufiqurrahman yang istimewa ini, membuatku berinisiatif untuk mengadakan peringatan isra mi’raj di masjid komplek perumahan BTN Korpri Mempawah yang disambut baik oleh warga perumahan dan sekitarnya. Meski hujan lebat mengguyur warga tetap datang untuk memeriahkan peringatan isra mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Alhamdulillah, acara terlaksana dengan baik. Setelah acara, anak-anak kecil berebut minum air dari gelas abah termasuk anakku Fayad. Persis ibunya dulu waktu mondok hehehe.  Semoga mendapat berkah sang Kyai. Amiin. 

Akhirnya pagi ini, setelah menginap di rumah mempawah, abah dan ibu kembali ke Jombang. Sungguh aku sangat bahagia. Semoga didikan yang Abah berikan padaku, dapat menjadikanku pribadi muslimah yang sholihah dan muslihah. Amiin.

Ke Museum Radya Pustaka Solo Yuk

Museum Radya Pustaka Solo (dok. fahrurrozizawawi)

Museum Radya Pustaka Solo (dok. fahrurrozizawawi)

Ada yang tahu nama museum tertua di Indonesia? Datang aja deh ke Solo, di sana ada Museum bernama Radya Pustaka. Letak Museum ini bersebelahan dengan Taman Sriwedari di Jalan Slamet Riyadi Solo.
Museum ini didirikan tanggal 28 Oktober 1890 oleh Kanjeng Raden Adipati (KRA) Sosrodiningrat IV, yang saat itu menjabat sebagai Patih Dalem Keraton Surakarta pada masa Sri Susuhunan Paku Buwono IX.
Kata Radya Pustaka berasal dari “Radya” yang artinya keraton atau negara, dan “Pustaka” yang berarti perpustakaan. Jadi, Radya Pustaka artinya adalah perpustakaan keraton atau perpustakaan negara.

Saat pertama kali didirikan, Museum Radya menempati salah satu ruang di kediaman KRA Sosrodiningrat IV. Kemudian dipindahkan ke tempat sekarang ini. Dulunya tempat ini bernama Loh Kadipolo. Bangunan berarsitek Belanda seluas 523,24 m2 itu awalnya milik orang Belanda, Johannes Busselaar, yang kemudian dibeli oleh Sri Susuhunan Paku Buwono X dan dijadikan museum pada 1 Januari 1913.

Bung Karno meresmikan patung Ronggowarsito di halaman depan Museum Radya Pustaka (dok. fahrurrozizawawi)

Bung Karno meresmikan patung Ronggowarsito di halaman depan Museum Radya Pustaka (dok. fahrurrozizawawi)

???????????????????????????????

naskah kuno (dok. fahrurrozizawawi)

Di halaman depan Museum dibangun patung Ronggowarsito, seorang pujangga termasyhur Keraton Surakarta yang hidup pada tahun 1802-1874. Pembangunan patung tersebut diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 11 Nopember 1953.
Museum tersebut menyimpan banyak koleksi buku/naskah kuno. Karena itu, banyak peneliti baik dari dalam maupun luar negeri yang datang untuk menggali informasi tempo dulu melalui buku-buku yang masih tertulis dengan aksara Jawa, ho-no-co-ro-ko dan juga dalam bahasa Belanda.

mesin ketik huruf jawa (dok. fahrurrozizawawi)

mesin ketik huruf jawa (dok. fahrurrozizawawi)

kotak musik pemberian Napoleon Bonaparte (dok. fahrurrozizawawi)

kotak musik pemberian Napoleon Bonaparte (dok. fahrurrozizawawi)

Selain itu, di Museum terdapat banyak sekali benda bersejarah loh. Diantaranya, relung rambut Sang Buddha, patung Avalokiteswara, Rajamala, beraneka ragam senjata pusaka, bermacam-macam arca dan bebatuan pada abad 7-10 Masehi, juga ditemukan kotak musik hadiah dari Kaisar Napoleon Bonaparte kepada Paku Buwono IV yang memerintah pada 1788-1820.

Begitu banyak informasi yang bisa kita dapatkan dengan mengunjungi museum. Makanya keluarga kami senang sekali berkunjung ke tempat-tempat seperti ini, selain menjadi hiburan juga bisa memberikan pendidikan kepada anak kami.

semoga saja benda-benda bersejarah di museum ini tetap terjaga. Dan terhindar dari pencurian benda-benda bersejarah sebagaimana yang terjadi di Monas beberapa waktu yang lalu. Karena sejarah budaya adalah kekayaan bangsa ini yang tidak bisa digantikan oleh apapun.