Category Archives: tentang anak usia dini

Anakku Juara

Tujuh belas Agustus tahun 45

Itulah hari kemerdekaan kita……

Gegap gempita suasana peringatan HUT Kemerdekaan RI di kompleks perumahan tempat tinggalku dimeriahkan olehceloteh ria anak-anak kecil, termasuk juga anakku. Malam tirakatan yang digelar oleh warga perumahan Griya Surya Permata Mayang Gatak pada malam tangal 17 Agustus 1945 berlangsung dengan khidmat dan ceria. Dimulai dengan pembukaan dari MC lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama serta dilanjutkan dengan berbagai acara yang spektakuler.

Ya…saya katakan spektakuler karena meskipun diselenggarakan dengan cara yang sederhana namun acara tersebut telah mengikat rasa kekeluargaan diantara penghuni perumahan kami. Perlombaan-perlombaan dalam rangka 17-an telah diadakan sehari sebelum bulan Ramadan tiba, sehingga para warga dan anak-anak sangat semangat berpartisipasi.

Untuk anak-anak diadakan lomba kelereng, membawa bola berpasangan, memasukkan bendera ke dalam botol dan lomba menggiring bola dengan terong. Semua anak yang ada di Griya Surya Permata sangatlah antusias,dari mulai yang masih balita sampai yan sudah SMP.

Untuk lomba balita, anakku memenangkan juara lomba memasukkan bendera ke dalam botol. Dengan penuh semangat jagoanku berlari menuju botol tempat tujuan benderanya diletakkan. Lucu sekali….karena baru kali ini anakku mengikuti lomba seperti ini, seru sekali!

 

 

 

Ketika anakku mengikuti lomba balap kelereng, dia sama sekali nggak bisa menjaga keseimbangan si kelereng yang diletakkan di atas sendok, karena kesulitan membawa dengan mulut akhirnya dengan ide kreatifnya dia membawa si sendok berkelereng itu dengan tangannya dan berlari sekencang-kencangnya……wah..wah..wah…..memang cepat sih…tapi jadinya nggak menang deh…!

Kalah dan menang bagiku sama saja….yang penting semua anak happy dan sangat bergembira. Canda tawa, teriak, dan guyon membahana di tempat itu. Sungguh peringatan yang membahagiakan. Semua anak tertawa dan bahagia, rasanya terharu sekali melihat wajah-wajah ceria mereka dalam memperingati HUT RI ke-66 ini.

Untuk bapak-bapak, malam harinya diadakan lomba futsal, kali ini suamiku yang berhasil merebut gelar juara bersama timnya. Sebenarnya pas malam mau nonton itu niatnya ya Cuma nonton, tapi apa daya ternyata timnya ada yang kekurangan pemain, akhirnya suamiku ikut merumput di lapangan futsal fasuk Griya Surya Permata.

Para pemenang lomba diumumkan saat malam tirakatan, anakku dengan sigap menuju panggung penghormatan saat namanya disebut sebagai juara lomba memasukkan bendera ke dalam botol. Melihat ekspresi wajahnya yang bahagia dan bangga, aku jadi terharu. Dia pun senag sekali mendapatkan hadiah, sampai sekarang hadiahnya dia simpan dan pergunakan untuk belajar “Ini buku hadiah ya Ma!” katanya bangga.

Semua warga bergembira. Di sana ada makanan dan minuman. Setelah pengumuman pemenang lomba dikumandangkan, tiba saat saksi perjuangan kemerdekaan bercerita tentang masa-masa perjuangan yang dialaminya. Sungguh terharu mendengar perjuangan saat itu. Beliau di usia yang masih belia sekitar 15 tahun, sudah menopang senjata demi kemerdekaan bangsanya. Seubhanallah…semoga generasi bangsa ini bisa memiliki jiwa patriotisme yang dimiliki para pahlawan kita.

Setelah mendengar cerita perang kemerdekaan, tiba pengumuman Griya Surya Permata Award. Ada penghuni yag paling baik, ada penghuni yang paling rajin ronda, ada ibu yang paling ramah, ada pengontrak terbaik, dan sebagainya. Semua gembira, ditambah lagi ada doorprize yang diberikan oleh panitia.

Sambil bagi-bagi doorprize panitia langsung menghidangkan snack dan minuman, setelah itu nasi liwet pincuk pun diedarkan..hmmmm nyummy banget deh, habis gitu boleh take a way lagi, tambah nikmat deh peringatan HUT RI ke-66 kali ini.

“Ma…Ma..Burung Ababil Kok Nggak Kepanasan?”

Aku termasuk ibu yang suka mendongeng untuk anakku sebelum dia tidur. Biasanya cerita yang paling sering aku dongengkan adalah kisah para nabi. Selain untuk mengenalkan tentang keEsaan Allah, anakku bisa mengenal perjalanan dan perjuangan para Nabi untuk menegakkan islam di muka bumi.

Nah,  aku nggak pingin mendongeng tentang para Nabi di sini, tapi bercerita tentang reaksi-reaksi yang selalu ditimbulkan anakku kalau sedang mendengarkan dongeng  sebelum tidurnya.

Beberapa hari ini dia paling suka me-request kisah tentang kelahiran Nabi Muhammad. Maka mulailah aku bercerita dari kisah  dimana pasukan Abrahah yang berkekuatan puluhan gajah ingin menghancurkan Ka’bah di Mekkah. Sebagaimana dari cerita dalam surat Al Fill, pasukan gajah itu akhirnya berhasil ditekuk mundur berkat bantuan Allah yang mengirim bantuan berupa serbuan burung Ababil yang melemparkan batuan panas yang sumbernya dari neraka kepada pasukan gajah itu.

Di saat aku mulai mendramatisir suasana saat burung-burung itu melemparkan bebatuan panas tersebut, seketika anak lelakiku itu memutus cerita untuk mengutarakan satu pertanyaan yang tidak pernah kuduga “Ma..ma…kok burungnya nggak kepanasan megang batunya, kan batunya panas” Subhanallah, aku nggak pernah kepikiran kalau dia sampai mengkhawatirkan nasib para burung Ababil itu.

Anak-anak, kadang sering  berpikir apa yang tidak pernah sama sekali kita pikirkan. Aku nggak punya jawaban yang pasti tentang bagaimana keadaan burung Ababil itu sebenarnya karena Al Quran tidak menjelaskan secara detail nasib burung Ababil ini, benarkah mereka tidak kepanasan ketika membawa bebatuan panas yang dilemparkan ke pasukan gajah. Karena kalau dipikir-pikir, kasihan juga si burung, lah wong gajah aja mati gara-gara kesamber batu panas itu, bagaimana dengan si burung yang jauh-jauh membawa batu itu di tangannya.

Tapi ketika saya kembalikan pertanyaan itu kepada jawaban atas kekuasaan Allah sehingga tangan-tangan para burung itu telah tahan panas atas izin Allah, anakku pun  menerima dan semakin memahami tentang betapa Maha Kuasanya Allah, Tuhan yang telah menciptakannya di dalam perut ibunya selama 9 bulan, mama dan babanya dan semua mahkluk di jagad raya ini, sehingga mudah bagi Allah untuk menjadikan batu-batu itu tak terasa panasnya oleh para burung Ababil sebagaimana Allah menyuruh api untuk menjadi dingin ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh kaumnya. Maha Besar Allah dengan segala kekuasaan-Nya.

Ketika Anakku Berdoa

Buat para ortu, pasti pernah dong merasakan saat-saat sibuk dan membutuhkan konsentrasi tinggi, tapi setelah kondisi itu terbentuk beberapa menit, tiba-tiba suasana itu dibuyarkan oleh tangisan atau rewelan anak dengan berbagai alasan. Saya juga pernah, sering malah.

Terus, gimana dong jadinya? (Bayangin aja sendiri ya)

Jujur terkadang tempramen saya langsung naik. Contohnya yang terjadi beberapa minggu lalu. Tapi, sekarang tempramen itu sering luluh seiring dengan perkembangan anakku yang mulai bisa melafalkan sejumlah doa-doa termasuk doa untuk kedua orang tua.

Pada suatu hari, badan saya lagi kurang enak badan. Saat itu anakku lagi kelas meeting, sambil nunggu rapot, jadi nggak ada kegiatan main di sekolah. Hari itu seperti biasa dengan badan yang kurang fit, saya tetap mengerjakan segudang kerjaan sesuai dengan karir sayasebagai isteri dan ibu seorang anak. Setelah suami berangkat kerja, mulai satu per satu gerilya mencari cucian kotor. Langsung dicuci, tidak lupa beres-beres rumah dan masak tentunya. Melihat si kecil yang belum mandi, langsung deh aku mandiin dan dipakaikan baju dengan segala macam tetek bengeknya, dari mulai minyak kayu putih, bedak sampai menata rambutnya (dimohak).

Setelah semua urusan rumah beres, santai sejenak untuk browsing dan berselancar di dunia maya. Tiba-tiba badanku tambah nggak enak. Lalu kuputuskan istirahat. Tapi sayangnya…anakku ngak suka kalau aku menutup mata “Ma, jangan tidur Ma!”

“Nggak mas, mama nggak tidur, cuma istirahat”

“Kok Mama merem?”

“Iya matanya capek”

“Ma…bikinin susu”

Naluri keibuanku membawaku melangkah ke dapur mengambil gelas dan menuangkan susu ke dalamnya dan kuaduk. Selesai minum, Fayad mulai lagi dengan aktivitasnya. “Ma…bacain buku Ma”

“Iya”

Habis baca buku dia minta makan. Karena waktu itu aku masak sayur dan dia nggak begitu nafsu, dia pun menolak dan minta dibikinin mie bihun goreng. Aku yang memang kurang fit, langsung pusing, karena aku dah susah-susah masak sayur biar Fayad makan, eh..ini malah nggak mau.

“Sudahlah Nak, makan sayur aja”

“Nggak mau”

“Sayur aja yah”

“Bihun goreng aja”

Dengan kurang ikhlas aku mulai membuka plastik bihun dengan marah-marah. Tapi tempramen tinggi itu langsung hilang saat Fayad tiba-tiba berdoa di dapur dengan nada innocent tanpa bersalah dan lugu “Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil”

Mendengar doa itu aku merasa sangat bersalah tidak melayani kebutuhannya dengan ikhlas.  Di dalam hati, aku merasa malu. Ya Allah bukankah dengan doa ini, anakku akan menolongku di akhirat nanti. Bagaimana aku bisa tidak ikhlas merawat anakku yang masih kecil ini. Karena hanya tiga hal yang masih terus mengalir saat aku mati kelak, amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang soleh.

Semoga aku bisa mendidik anakku dengan ikhlas sehinga bisa menjadi anak yang sholeh.