Blog Archives

Damainya Pulau Penibung Mempawah

Bersama anak-anak di Pulau Penibung Mempawah (dok.yunisura)

Bersama anak-anak di Pulau Penibung Mempawah (dok.yunisura)

Liburan akhir tahun 2015, kami sekeluarga mengeksplorasi keindahan alam yang ada di sekitar Mempawah. Salah satunya adalah Pulau Penibung. Kami tidak berlayar dengan sampan, hanya menikmati keindahannya saja dari bibir pantai.

Pulau Penibung mungkin hanya beberapa ratus meter dari bibir pantai, sehingga menikmati nuansa alamnya yang damai ditemani desir ombak yang lembut, sangat cukup memberikan ketenangan dan kesegaran hati. Apalagi bibir pantai Mempawah banyak ditumbuhi pohon kelapa yang permai. Semakin menambah suasana menjadi damai.

IMG-20151226-01298

suasana senja di pulau Penibung Mempawah (dok.yunisura)

Dari rumah, sekitar sepuluh menit kami sudah sampai. Pagi itu kami sengaja membawa bekal sarapan untuk dinikmati di sana. Begitu tiba di sana, alangkah indahnya menikmati nuansa laut yang tenang, dihiasi beberapa sampan nelayan yang pelan menangkap ikan dan udang. Benarlah negeri ini memang kaya. Bukan hanya hasil buminya, tapi juga lautnya. Nelayan hanya menebar jala, dalam sekejap udang sudah ada di tangan.

IMG-20160101-01596Pagi itu, air laut pasang. Debur ombaknya cukup riang menerpa dinding-dinding batu yang sengaja diletakkan di bibir pantai untuk mencegah abrasi. Pohon bakau tampak berjajar di sepanjang bibir pantai Mempawah. Mengikat tanah di bawahnya agar tidak hilang ditelan laut. Beberapa hewan air bersembunyi di lumpur saat kami melangkah. Ada banyak kepiting bersembunyi di balik lumpur itu. Suasana alam yang tenang dan damai seperti ini, lebih dari cukup untuk menghibur hati dan menyegarkan pikiran.

Kami membuka bekal sarapan yang dibawa dari rumah. Semua menikmati dengan lahap. Bahagia itu sederhana. Bisa berkumpul dengan keluarga kecil sambil menikmati sarapan di tepi laut yang damai, ditemani indahnya Pulau Penibung Mempawah nan permai. Nikmat Tuhan yang tiada terkira.

Ziarah ke Raja Mempawah

pusara Opu Daeng Menambon atau Pangeran Mas Surya Negara atau Upu Alinu Malinu Daeng Menambon di Sebukit Rama (dok. yunisura)

pusara Opu Daeng Menambon atau Pangeran Mas Surya Negara atau Opu Alinu Malinu Daeng Menambon di Sebukit Rama (dok. yunisura)

Opu Daeng Menambon adalah Raja Mempawah. Ia menerapkan hukum islam dalam sistem pemerintahannya. Raja yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara ini dikenal sebagai raja yang bijaksana, adil dan sederhana. Meskipun dia adalah pemimpin di daerah Kalimantan, beliau berasal dari Sulawesi Selatan. Kakeknya adalah Raja Luwu yang pertama kali memeluk islam di tanah Bugis. Karena darah bugis yang mengalir dalam tubuhnya inilah, ia bersama empat saudaranya menjadi pelaut ulung nan tangguh.

Lima Opu bersaudara ini mengarungi lautan Nusantara yang akhirnya berpencar mengikuti takdirnya masing-masing. Mereka ada yang di tanah Johor, Riau, Betawi, Banjarmasin dan Mempawah.

Menurut buku “Sejarah Mempawah Tempo Doeloe” karya Ellyas Suryani Soren dan buku “Jejak Sejarah Pangeran Mas Surya Negara atau Upu Alinu Malinu Daeng Menambon” karya Gusti Lahmudin Jia, Opu Daeng Menambon dan empat saudaranya, datang ke bumi Pontianak atas permintaan dari Raja Matan (Kota Pontianak), Sultan Muhammad Zainuddin. Saat itu beliau sedang ditahan oleh adik yang telah mengkudeta kepemimpinannya. Lima Opu yang terkenal akan ketengkasan mereka itu, berhasil menyelamatkan Sultan dan mengembalikan kekuasaannya. Sebagai ucapan terima kasih, sultan menikahkan puterinya dengan salah satu dari lima Opu tersebut. Opu Daeng Menambon lah yang akhirnya mempersunting Puteri Kesuma dan tinggal di Matan sedang Opu yang lain kembali dalam pengembaraan mereka mengarungi lautan.

Ketika Sultan Muhammad Zaenuddin wafat, Daeng Menambon meninggalkan Kerajaan Matan dan menetap di daerah Sebukit Rama Sungai Mempawah. Ia pindah bersama isteri dan ibu mertuanya, isteri Sultan. Karena ibu mertua Daeng Menambon adalah anak dari Panembahan Senggaok (Raja Mempawah), ia pun akhirnya diberi amanah untuk melanjutkan pemerintahan Mempawah. Jadilah Opu Daeng Menambon Panembahan di Mempawah.

Berpose di Sebukit Rama Mempawah (dok. yunisura)

Berpose di Sebukit Rama Mempawah (dok. yunisura)

Begitulah sekilas cerita tentang tokoh yang kami ziarahi tepat di hari pertama tahun 1435 Hijriah  Selasa, 5 November 2013. Paginya aku bersama ibu-ibu Majelis Taklim Nurul Ihsan ikut pawai. Jaraknya lumayan loh, tapi ketika suami ngajak ziarah, aku pun semangat. Pokoknya kalau jalan-jalan selalu oke deh.

Ziarah diperbolehkan oleh Rasulullah. Meski awalnya Rasul melarang, namun akhirnya Nabi SAW membolehkannya. Berziarah mengingatkan kita akan kematian dan hari akhir.

Dalam Sunan Turmudzi no 973

حديث بريدة قال : قال رسول الله صلى الله علية وسلم :”قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزورها فإنها تذكر الآخرة”رواة الترمذي

Hadits dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah..! karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat.

Setelah mendengar betapa hebat sepak terjang tokoh yang kami ziarahi, aku sadar, sehebat apa pun manusia hidup di muka bumi ini, ia pasti akan kembali kepada Sang Kholik. Bedanya, apakah manusia itu  mati dengan tidak meninggalkan apa-apa, atau dia mati meninggalkan karya yang bermanfaat dan dikenang oleh umatnya.

Gapura menuju kawasan makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

Gapura menuju kawasan makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

Perjalanan menuju komplek pemakaman Opu Daeng Menambon dari perumahan kami, ditempuh sekitar 30 menit. Jaraknya kira-kira 20 km dari Perumahan BTN Korpri belakan RSUD Rubini Mempawah. Kami mengawali perjalanan dari Jalan Raden Kusno menuju arah Singkawang. Kira-kira di km 10 akan bertemu dengan gapura di kanan jalan yang bertuliskan “Kawasan Makam Opu Daeng Menambon” Sebukit Rama Desa Pasir KM 9,7. Dari Gapura itu masih sekitar 10 kilo lagi. Selama perjalanan menuju Sebukit kita ditemani sungai kecil di pinggir jalan dan di sisi-sisinya banyak kita temukan pohon sirsak.

Ketika kawasan rumah penduduk sudah tidak tampak, akan hadir bukit di hadapan kita. Dari jauh terlihat ada kuburan Cina. Tadinya aku pikir kami sudah sampai, ternyata salah, kawasan Makam Opu masih lumayan jaraknya. Melewati jalan di perbukitan itu sedikit tegang, karena jalannya sepi. Tapi kemudian tampak ada perkebunan buah naga dan beberapa saung, jadi lebih rileks. Tapi setelah itu terlewati perjalanan jadi mencekam lagi, apalagi  masuk ke hutannya. Saat diliputi ketegangan, aku mencoba bersolawat biar mengalihkan pikiran, syukurlah setelah turunan curam, terlihat kawasan makam. Di sana tampak ada beberapa penjual makanan dan minuman, jadi nggak serem lagi deh. Fiuuh, maklum lah jarang melakukan perjalanan di tempat sepi jadi kadang suka parno.

Pintu masuk menuju makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama Desa Pasir Mempawah (dok. yunisura)

Pintu masuk menuju makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama Desa Pasir Mempawah (dok. yunisura)

Setelah sampai, kami langsung disambut oleh anak tangga yang menjulang. Nyaliku jadi ciut, ada berapa anak tangga ya? Jangan-jangan kaya di Tawangmangu atau di Imogiri, haduh bisa balik kanan nie. Kan tadi pagi habis pawai, kaki ini rasanya nggak kuat kalau harus naik ratusan anak tangga. Setelah tanya dengan orang-orang yang turun, syukurlah tidak terlalu tinggi. Setelah bertanya itulah, aku putuskan untuk menghitung jumlah anak tangga itu. Tidak dari awal sih menghitungnya, jadi kalau dikira-kira dengan hasil hitunganku sih ada sekitar 200 anak tangga gitu deh.

anak tangga menuju makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

anak tangga menuju makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

Setelah sampai kami langsung menuju makam Opu dan membaca kalimat toyyibah dan bertadabbur akan kehidupan yang fana ini. Setelah itu seperti biasa, ritual jeprat jepret pun kami lakukan. Setelah puas, kami menuju sebuah tempat dimana kami bisa memandang ke bawah. Wah indah juga melihat aliran sungai Mempawah dari atas. Jeprat jepret pun berlangsung lagi.

Saat mau pulang kami ditahan oleh hujan. Sampai akhirnya pukul 16.30 WIB hujan pun reda. Kami sampai rumah pas maghrib, sebelumnya kami makan pecel lele dan ayam bakar Lamongan dulu di Pusat Kulinernya Mempawah, di kawasan terminal. Perut pun kenyang, hati senang dan kami pun pulang.