Blog Archives

Pesta Robo Robo Mempawah 2014

rombongan Robo Robo Mempawah 2014 (dok. yunisura)

rombongan Robo Robo Mempawah 2014 (dok. yunisura)

Hari pertama di tahun 2014 ini kami sekeluarga bergabung bersama ribuan masyarakat di Kalimantan Barat untuk menikmati pesta adat budaya Mempawah Robo Robo. Kami menyambut Raja di dermaga Mempawah yang datang bersama rombongannya menggunakan perahu.

Raja membagikan bekalnya kepada masyarakat Mempawah di Robo Robo 2014 (dok. yunisura)

Raja membagikan bekalnya kepada masyarakat Mempawah di Robo Robo 2014 (dok. yunisura)

Acara ini diadakan setiap tahun. Kebetulan tahun ini bertepatan dengan tanggal 1 Januari 2014. Banyak sekali masyarakat yang menghabiskan waktu mereka melihat-lihat keramaian di kota bestari ini. Acara yang kali ini digelar di pelabuhan dermaga Mempawah banyak diikuti oleh ratusan pedagang. Dari pedagang makanan, pakaian, dan mainan.
Acara ini seperti pasar rakyat. Namun ada sejarah yang melatarbelakangi diselenggarakannya pesta adat ini. Robo Robo adalah sebuah acara adat untuk mengenang kedatangan Opu Daeng Menambon yang untuk pertama kalinya tiba di bumi Mempawah.

Sekitar tahun 1737 Masehi atau 1148 H, rombongan Opu Daeng Menambon dan isterinya Puteri Kesumba tiba di Mempawah yang bermaksud menerima kekuasaan dari panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajank Mempawah. Opu berlayar dari Kerajaan Sukadana (Ketapang) diiringi 40 sekitar perahu. Saat masuk di Muara Mempawah, rombongan disambut dengan gembira oleh rakyat Mempawah. Bahkan beberapa ada yang menyambut Opu dengan menggunakan perahu di perairan. Penduduk di sekitar muara juga memasang kain warna warni untuk menyambut Opu Daeng Menambon beserta rombongannya. Melihat kegembiraan dan sambutan yang meriah dari rakyat Mempawah, Opu kemudian membagikan sebagian bekalnya kepada rakyat. Itulah mengapa tadi kami juga kebagian ketupat dari raja saat beliau turun dari kapalnya. Tapi dapetnya Cuma satu, terus langsung dilahap Fayad. Nggak kebagian deh mama papanya. Setelah berlabuh, raja membaca doa keselamatan bagi seluruh rakyat Mempawah.

di dalam kapal TNI AL yang membawa Raja di Robo Robo Mempawah 2014 (dok. yunisura)

di dalam kapal TNI AL yang membawa Raja di Robo Robo Mempawah 2014 (dok. yunisura)

di atas kapal TNI AL Robo Robo Mempawah 2014 (dok.yunisura)

di atas kapal TNI AL Robo Robo Mempawah 2014 (dok.yunisura)

Begitulah prosesi Robo Robo yang selalu diadakan setiap tahunnya. Bedanya sekarang Raja pakai kapal milik TNI AL. Setelah Raja turun dari kapal dan membagikan ketupat kepada masyarakat, kami sekeluarga tertarik untuk mendekati kapalnya. Hehehe…maklum lah belum pernah lihat kapal TNI AL, akhirnya ya narsis dulu lah di kapalnya. Kebetulan Bapak TNI juga baik, kami boleh masuk di kapalnya dan duduk di kemudinya. Fayad seneng banget di sana. Pas diajak turun malah protes “Kok sebentar banget Ma!” mulai deh gayanya….haduuh capek deh.

duduk duduk di dermaga Kuala Mempawah (dok. yunisura)

duduk duduk di dermaga Kuala Mempawah (dok. yunisura)

Habis foto-foto kami duduk di dermaga sambil lihat muara sambil nemani Fayad melahap ketupat ketan yang tadi dapet dari Raja.
Begitulah cerita tahun baru kami. Selesai dari acara Fayad kelaperan dan minta makan sate. Untunglah ada tukang sate yang standby di deket terminal Mempawah. Setelah beli 20 tusuk, kami pun pulang dan bobo siang.

Advertisements

Ziarah ke Raja Mempawah

pusara Opu Daeng Menambon atau Pangeran Mas Surya Negara atau Upu Alinu Malinu Daeng Menambon di Sebukit Rama (dok. yunisura)

pusara Opu Daeng Menambon atau Pangeran Mas Surya Negara atau Opu Alinu Malinu Daeng Menambon di Sebukit Rama (dok. yunisura)

Opu Daeng Menambon adalah Raja Mempawah. Ia menerapkan hukum islam dalam sistem pemerintahannya. Raja yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara ini dikenal sebagai raja yang bijaksana, adil dan sederhana. Meskipun dia adalah pemimpin di daerah Kalimantan, beliau berasal dari Sulawesi Selatan. Kakeknya adalah Raja Luwu yang pertama kali memeluk islam di tanah Bugis. Karena darah bugis yang mengalir dalam tubuhnya inilah, ia bersama empat saudaranya menjadi pelaut ulung nan tangguh.

Lima Opu bersaudara ini mengarungi lautan Nusantara yang akhirnya berpencar mengikuti takdirnya masing-masing. Mereka ada yang di tanah Johor, Riau, Betawi, Banjarmasin dan Mempawah.

Menurut buku “Sejarah Mempawah Tempo Doeloe” karya Ellyas Suryani Soren dan buku “Jejak Sejarah Pangeran Mas Surya Negara atau Upu Alinu Malinu Daeng Menambon” karya Gusti Lahmudin Jia, Opu Daeng Menambon dan empat saudaranya, datang ke bumi Pontianak atas permintaan dari Raja Matan (Kota Pontianak), Sultan Muhammad Zainuddin. Saat itu beliau sedang ditahan oleh adik yang telah mengkudeta kepemimpinannya. Lima Opu yang terkenal akan ketengkasan mereka itu, berhasil menyelamatkan Sultan dan mengembalikan kekuasaannya. Sebagai ucapan terima kasih, sultan menikahkan puterinya dengan salah satu dari lima Opu tersebut. Opu Daeng Menambon lah yang akhirnya mempersunting Puteri Kesuma dan tinggal di Matan sedang Opu yang lain kembali dalam pengembaraan mereka mengarungi lautan.

Ketika Sultan Muhammad Zaenuddin wafat, Daeng Menambon meninggalkan Kerajaan Matan dan menetap di daerah Sebukit Rama Sungai Mempawah. Ia pindah bersama isteri dan ibu mertuanya, isteri Sultan. Karena ibu mertua Daeng Menambon adalah anak dari Panembahan Senggaok (Raja Mempawah), ia pun akhirnya diberi amanah untuk melanjutkan pemerintahan Mempawah. Jadilah Opu Daeng Menambon Panembahan di Mempawah.

Berpose di Sebukit Rama Mempawah (dok. yunisura)

Berpose di Sebukit Rama Mempawah (dok. yunisura)

Begitulah sekilas cerita tentang tokoh yang kami ziarahi tepat di hari pertama tahun 1435 Hijriah  Selasa, 5 November 2013. Paginya aku bersama ibu-ibu Majelis Taklim Nurul Ihsan ikut pawai. Jaraknya lumayan loh, tapi ketika suami ngajak ziarah, aku pun semangat. Pokoknya kalau jalan-jalan selalu oke deh.

Ziarah diperbolehkan oleh Rasulullah. Meski awalnya Rasul melarang, namun akhirnya Nabi SAW membolehkannya. Berziarah mengingatkan kita akan kematian dan hari akhir.

Dalam Sunan Turmudzi no 973

حديث بريدة قال : قال رسول الله صلى الله علية وسلم :”قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزورها فإنها تذكر الآخرة”رواة الترمذي

Hadits dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah..! karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat.

Setelah mendengar betapa hebat sepak terjang tokoh yang kami ziarahi, aku sadar, sehebat apa pun manusia hidup di muka bumi ini, ia pasti akan kembali kepada Sang Kholik. Bedanya, apakah manusia itu  mati dengan tidak meninggalkan apa-apa, atau dia mati meninggalkan karya yang bermanfaat dan dikenang oleh umatnya.

Gapura menuju kawasan makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

Gapura menuju kawasan makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

Perjalanan menuju komplek pemakaman Opu Daeng Menambon dari perumahan kami, ditempuh sekitar 30 menit. Jaraknya kira-kira 20 km dari Perumahan BTN Korpri belakan RSUD Rubini Mempawah. Kami mengawali perjalanan dari Jalan Raden Kusno menuju arah Singkawang. Kira-kira di km 10 akan bertemu dengan gapura di kanan jalan yang bertuliskan “Kawasan Makam Opu Daeng Menambon” Sebukit Rama Desa Pasir KM 9,7. Dari Gapura itu masih sekitar 10 kilo lagi. Selama perjalanan menuju Sebukit kita ditemani sungai kecil di pinggir jalan dan di sisi-sisinya banyak kita temukan pohon sirsak.

Ketika kawasan rumah penduduk sudah tidak tampak, akan hadir bukit di hadapan kita. Dari jauh terlihat ada kuburan Cina. Tadinya aku pikir kami sudah sampai, ternyata salah, kawasan Makam Opu masih lumayan jaraknya. Melewati jalan di perbukitan itu sedikit tegang, karena jalannya sepi. Tapi kemudian tampak ada perkebunan buah naga dan beberapa saung, jadi lebih rileks. Tapi setelah itu terlewati perjalanan jadi mencekam lagi, apalagi  masuk ke hutannya. Saat diliputi ketegangan, aku mencoba bersolawat biar mengalihkan pikiran, syukurlah setelah turunan curam, terlihat kawasan makam. Di sana tampak ada beberapa penjual makanan dan minuman, jadi nggak serem lagi deh. Fiuuh, maklum lah jarang melakukan perjalanan di tempat sepi jadi kadang suka parno.

Pintu masuk menuju makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama Desa Pasir Mempawah (dok. yunisura)

Pintu masuk menuju makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama Desa Pasir Mempawah (dok. yunisura)

Setelah sampai, kami langsung disambut oleh anak tangga yang menjulang. Nyaliku jadi ciut, ada berapa anak tangga ya? Jangan-jangan kaya di Tawangmangu atau di Imogiri, haduh bisa balik kanan nie. Kan tadi pagi habis pawai, kaki ini rasanya nggak kuat kalau harus naik ratusan anak tangga. Setelah tanya dengan orang-orang yang turun, syukurlah tidak terlalu tinggi. Setelah bertanya itulah, aku putuskan untuk menghitung jumlah anak tangga itu. Tidak dari awal sih menghitungnya, jadi kalau dikira-kira dengan hasil hitunganku sih ada sekitar 200 anak tangga gitu deh.

anak tangga menuju makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

anak tangga menuju makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

Setelah sampai kami langsung menuju makam Opu dan membaca kalimat toyyibah dan bertadabbur akan kehidupan yang fana ini. Setelah itu seperti biasa, ritual jeprat jepret pun kami lakukan. Setelah puas, kami menuju sebuah tempat dimana kami bisa memandang ke bawah. Wah indah juga melihat aliran sungai Mempawah dari atas. Jeprat jepret pun berlangsung lagi.

Saat mau pulang kami ditahan oleh hujan. Sampai akhirnya pukul 16.30 WIB hujan pun reda. Kami sampai rumah pas maghrib, sebelumnya kami makan pecel lele dan ayam bakar Lamongan dulu di Pusat Kulinernya Mempawah, di kawasan terminal. Perut pun kenyang, hati senang dan kami pun pulang.