Category Archives: pendidikan

Ziarah ke Raja Mempawah

pusara Opu Daeng Menambon atau Pangeran Mas Surya Negara atau Upu Alinu Malinu Daeng Menambon di Sebukit Rama (dok. yunisura)

pusara Opu Daeng Menambon atau Pangeran Mas Surya Negara atau Opu Alinu Malinu Daeng Menambon di Sebukit Rama (dok. yunisura)

Opu Daeng Menambon adalah Raja Mempawah. Ia menerapkan hukum islam dalam sistem pemerintahannya. Raja yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara ini dikenal sebagai raja yang bijaksana, adil dan sederhana. Meskipun dia adalah pemimpin di daerah Kalimantan, beliau berasal dari Sulawesi Selatan. Kakeknya adalah Raja Luwu yang pertama kali memeluk islam di tanah Bugis. Karena darah bugis yang mengalir dalam tubuhnya inilah, ia bersama empat saudaranya menjadi pelaut ulung nan tangguh.

Lima Opu bersaudara ini mengarungi lautan Nusantara yang akhirnya berpencar mengikuti takdirnya masing-masing. Mereka ada yang di tanah Johor, Riau, Betawi, Banjarmasin dan Mempawah.

Menurut buku “Sejarah Mempawah Tempo Doeloe” karya Ellyas Suryani Soren dan buku “Jejak Sejarah Pangeran Mas Surya Negara atau Upu Alinu Malinu Daeng Menambon” karya Gusti Lahmudin Jia, Opu Daeng Menambon dan empat saudaranya, datang ke bumi Pontianak atas permintaan dari Raja Matan (Kota Pontianak), Sultan Muhammad Zainuddin. Saat itu beliau sedang ditahan oleh adik yang telah mengkudeta kepemimpinannya. Lima Opu yang terkenal akan ketengkasan mereka itu, berhasil menyelamatkan Sultan dan mengembalikan kekuasaannya. Sebagai ucapan terima kasih, sultan menikahkan puterinya dengan salah satu dari lima Opu tersebut. Opu Daeng Menambon lah yang akhirnya mempersunting Puteri Kesuma dan tinggal di Matan sedang Opu yang lain kembali dalam pengembaraan mereka mengarungi lautan.

Ketika Sultan Muhammad Zaenuddin wafat, Daeng Menambon meninggalkan Kerajaan Matan dan menetap di daerah Sebukit Rama Sungai Mempawah. Ia pindah bersama isteri dan ibu mertuanya, isteri Sultan. Karena ibu mertua Daeng Menambon adalah anak dari Panembahan Senggaok (Raja Mempawah), ia pun akhirnya diberi amanah untuk melanjutkan pemerintahan Mempawah. Jadilah Opu Daeng Menambon Panembahan di Mempawah.

Berpose di Sebukit Rama Mempawah (dok. yunisura)

Berpose di Sebukit Rama Mempawah (dok. yunisura)

Begitulah sekilas cerita tentang tokoh yang kami ziarahi tepat di hari pertama tahun 1435 Hijriah  Selasa, 5 November 2013. Paginya aku bersama ibu-ibu Majelis Taklim Nurul Ihsan ikut pawai. Jaraknya lumayan loh, tapi ketika suami ngajak ziarah, aku pun semangat. Pokoknya kalau jalan-jalan selalu oke deh.

Ziarah diperbolehkan oleh Rasulullah. Meski awalnya Rasul melarang, namun akhirnya Nabi SAW membolehkannya. Berziarah mengingatkan kita akan kematian dan hari akhir.

Dalam Sunan Turmudzi no 973

حديث بريدة قال : قال رسول الله صلى الله علية وسلم :”قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزورها فإنها تذكر الآخرة”رواة الترمذي

Hadits dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah..! karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat.

Setelah mendengar betapa hebat sepak terjang tokoh yang kami ziarahi, aku sadar, sehebat apa pun manusia hidup di muka bumi ini, ia pasti akan kembali kepada Sang Kholik. Bedanya, apakah manusia itu  mati dengan tidak meninggalkan apa-apa, atau dia mati meninggalkan karya yang bermanfaat dan dikenang oleh umatnya.

Gapura menuju kawasan makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

Gapura menuju kawasan makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

Perjalanan menuju komplek pemakaman Opu Daeng Menambon dari perumahan kami, ditempuh sekitar 30 menit. Jaraknya kira-kira 20 km dari Perumahan BTN Korpri belakan RSUD Rubini Mempawah. Kami mengawali perjalanan dari Jalan Raden Kusno menuju arah Singkawang. Kira-kira di km 10 akan bertemu dengan gapura di kanan jalan yang bertuliskan “Kawasan Makam Opu Daeng Menambon” Sebukit Rama Desa Pasir KM 9,7. Dari Gapura itu masih sekitar 10 kilo lagi. Selama perjalanan menuju Sebukit kita ditemani sungai kecil di pinggir jalan dan di sisi-sisinya banyak kita temukan pohon sirsak.

Ketika kawasan rumah penduduk sudah tidak tampak, akan hadir bukit di hadapan kita. Dari jauh terlihat ada kuburan Cina. Tadinya aku pikir kami sudah sampai, ternyata salah, kawasan Makam Opu masih lumayan jaraknya. Melewati jalan di perbukitan itu sedikit tegang, karena jalannya sepi. Tapi kemudian tampak ada perkebunan buah naga dan beberapa saung, jadi lebih rileks. Tapi setelah itu terlewati perjalanan jadi mencekam lagi, apalagi  masuk ke hutannya. Saat diliputi ketegangan, aku mencoba bersolawat biar mengalihkan pikiran, syukurlah setelah turunan curam, terlihat kawasan makam. Di sana tampak ada beberapa penjual makanan dan minuman, jadi nggak serem lagi deh. Fiuuh, maklum lah jarang melakukan perjalanan di tempat sepi jadi kadang suka parno.

Pintu masuk menuju makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama Desa Pasir Mempawah (dok. yunisura)

Pintu masuk menuju makam Opu Daeng Menambon di Sebukit Rama Desa Pasir Mempawah (dok. yunisura)

Setelah sampai, kami langsung disambut oleh anak tangga yang menjulang. Nyaliku jadi ciut, ada berapa anak tangga ya? Jangan-jangan kaya di Tawangmangu atau di Imogiri, haduh bisa balik kanan nie. Kan tadi pagi habis pawai, kaki ini rasanya nggak kuat kalau harus naik ratusan anak tangga. Setelah tanya dengan orang-orang yang turun, syukurlah tidak terlalu tinggi. Setelah bertanya itulah, aku putuskan untuk menghitung jumlah anak tangga itu. Tidak dari awal sih menghitungnya, jadi kalau dikira-kira dengan hasil hitunganku sih ada sekitar 200 anak tangga gitu deh.

anak tangga menuju makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

anak tangga menuju makam Opu Daeng Menambon Mempawah (dok. yunisura)

Setelah sampai kami langsung menuju makam Opu dan membaca kalimat toyyibah dan bertadabbur akan kehidupan yang fana ini. Setelah itu seperti biasa, ritual jeprat jepret pun kami lakukan. Setelah puas, kami menuju sebuah tempat dimana kami bisa memandang ke bawah. Wah indah juga melihat aliran sungai Mempawah dari atas. Jeprat jepret pun berlangsung lagi.

Saat mau pulang kami ditahan oleh hujan. Sampai akhirnya pukul 16.30 WIB hujan pun reda. Kami sampai rumah pas maghrib, sebelumnya kami makan pecel lele dan ayam bakar Lamongan dulu di Pusat Kulinernya Mempawah, di kawasan terminal. Perut pun kenyang, hati senang dan kami pun pulang.

Advertisements

Ke Museum Radya Pustaka Solo Yuk

Museum Radya Pustaka Solo (dok. fahrurrozizawawi)

Museum Radya Pustaka Solo (dok. fahrurrozizawawi)

Ada yang tahu nama museum tertua di Indonesia? Datang aja deh ke Solo, di sana ada Museum bernama Radya Pustaka. Letak Museum ini bersebelahan dengan Taman Sriwedari di Jalan Slamet Riyadi Solo.
Museum ini didirikan tanggal 28 Oktober 1890 oleh Kanjeng Raden Adipati (KRA) Sosrodiningrat IV, yang saat itu menjabat sebagai Patih Dalem Keraton Surakarta pada masa Sri Susuhunan Paku Buwono IX.
Kata Radya Pustaka berasal dari “Radya” yang artinya keraton atau negara, dan “Pustaka” yang berarti perpustakaan. Jadi, Radya Pustaka artinya adalah perpustakaan keraton atau perpustakaan negara.

Saat pertama kali didirikan, Museum Radya menempati salah satu ruang di kediaman KRA Sosrodiningrat IV. Kemudian dipindahkan ke tempat sekarang ini. Dulunya tempat ini bernama Loh Kadipolo. Bangunan berarsitek Belanda seluas 523,24 m2 itu awalnya milik orang Belanda, Johannes Busselaar, yang kemudian dibeli oleh Sri Susuhunan Paku Buwono X dan dijadikan museum pada 1 Januari 1913.

Bung Karno meresmikan patung Ronggowarsito di halaman depan Museum Radya Pustaka (dok. fahrurrozizawawi)

Bung Karno meresmikan patung Ronggowarsito di halaman depan Museum Radya Pustaka (dok. fahrurrozizawawi)

???????????????????????????????

naskah kuno (dok. fahrurrozizawawi)

Di halaman depan Museum dibangun patung Ronggowarsito, seorang pujangga termasyhur Keraton Surakarta yang hidup pada tahun 1802-1874. Pembangunan patung tersebut diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 11 Nopember 1953.
Museum tersebut menyimpan banyak koleksi buku/naskah kuno. Karena itu, banyak peneliti baik dari dalam maupun luar negeri yang datang untuk menggali informasi tempo dulu melalui buku-buku yang masih tertulis dengan aksara Jawa, ho-no-co-ro-ko dan juga dalam bahasa Belanda.

mesin ketik huruf jawa (dok. fahrurrozizawawi)

mesin ketik huruf jawa (dok. fahrurrozizawawi)

kotak musik pemberian Napoleon Bonaparte (dok. fahrurrozizawawi)

kotak musik pemberian Napoleon Bonaparte (dok. fahrurrozizawawi)

Selain itu, di Museum terdapat banyak sekali benda bersejarah loh. Diantaranya, relung rambut Sang Buddha, patung Avalokiteswara, Rajamala, beraneka ragam senjata pusaka, bermacam-macam arca dan bebatuan pada abad 7-10 Masehi, juga ditemukan kotak musik hadiah dari Kaisar Napoleon Bonaparte kepada Paku Buwono IV yang memerintah pada 1788-1820.

Begitu banyak informasi yang bisa kita dapatkan dengan mengunjungi museum. Makanya keluarga kami senang sekali berkunjung ke tempat-tempat seperti ini, selain menjadi hiburan juga bisa memberikan pendidikan kepada anak kami.

semoga saja benda-benda bersejarah di museum ini tetap terjaga. Dan terhindar dari pencurian benda-benda bersejarah sebagaimana yang terjadi di Monas beberapa waktu yang lalu. Karena sejarah budaya adalah kekayaan bangsa ini yang tidak bisa digantikan oleh apapun.

Nikmatnya Jalan-Jalan di Museum

Memantau Semarang dari atas menara (dok.yunisura.wordpress.com)

Waktu pulang dari Pati, kami punya kesempatan untuk berkunjung ke Masjid Agung Demak dan Musium Masjid Agung Semarang yang megah. Kebetulan sekali, perjalanan Solo-Pati kali ini melalui jalur Semarang, so kami punya tempat-tempat yang asyik dikunjungi , yaitu Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Semarang.

Kedua tempat ini adalah tempat ibadah sekaligus tempat wisata rohani di provinsi Jawa Tengah. Bersyukur sekali bisa berkunjung ke sana. Dua kota yang telah banyak menyaksikan berbagai sejarah perkembangan islam tanah jawa sangat asyik mengeksplore tempat ini lebih jauh.

Masjid Agung Demak

Secara kronologis pemerintahan Kesultanan Bintoro dan situs Masjid Agung Demak yang Karismatik di Jawa Tengah ini berawal dari lahirnya satriya tahun 1448 M di Sriwijaya Palembang. Raden Fatah adalah anak kandung dari Prabu BrawijayaV/Raja Majapahit XI.  Menurut versi Babad Tanah Jawa, setelah menikahi putri dari Campa Palembang, Sang Raja Majapahit ini mengambil selir Cina, anak Kyai Bah Tong. Karena cemburu, putri Campa menyuruh sang Prabu untuk menceraikannya meski ia sedang dalam keadaan hamil. Selir Cina itu pun diberikan kepada Arya Damar untuk  dinikahi dengan syarat tidak boleh menidurinya sampai bayi yang dikandung lahir. Akhirnya Arya Damar dan Putri Cina diberi kekuasaan di daerah Palembang dan janin keturunan Prabu Brawijaya pun lahir di tanah bekas kekuasaan Sriwijaya dan diberi nama oleh ibunya Jin Bun alias Raden Fatah.

anakku sedang pose di depan Museum Masjid Agung Demak (dok. yunisura.wordpress.com)

Raden Fatah bersama adiknya (beda ayah) pamit ingin mengabdi pada Majapahit di Jawa. Setelah tiba di tanah Jawa, Raden Fatah bertemu dengan Sunan Ampel. Kecintaan cucu Kyai Bah Tong ini pada islam semakin subur ketika menimba ilmu dengan sang Wali dan memutuskan untuk tidak jadi mengabdi pada Majapahit. Sampai akhirnya beliau menikah dengan anak perempuan sang Wali dan diperintahkan untuk membangun pemukiman di daerah Barat dimana pepohonannya mengeluarkan aroma wangi. Maka saat pertama kali dibangun oleh Raden Fatah,  Demak Bintoro dinamakan desa “Glagah Wangi”.

Kesultanan Bintoro di Demak yang dipimpin Raden Fatah adalah cikal bakal berdirinya Kerajaan Islam I di Pulau Jawa yang diprakarsai oleh “Wali Songo”. Di kawasan Nusantara “Wali Songo” adalah pelaku penyebar agama islam yang telah mendakwahkan ajaran islam, tradisi, kesenian,toleran dan dengan cara damai.

Sebenarnya Wali Songo adalah nama suatu dewan dakwah dan dewan muballigh, yang jika salah seorang pergi atau meninggal segera diganti oleh Wali lainnya. Berawal dari permintaan Sultan Muhammad I dari Kerajaan Turki pada tahun 1404 M kepada pembesar islam di Afrika Utara dan Timur Tengah agar para ulama yang mempunyai karomah berhijrah ke pulau Jawa. Maka berdatanganlah Sembilan ulama karomah dari berbagai Negara menyebarkan islam di negeri nusantara.

Pada tahun 1466 M Raden Fatah bersama para santri “Wali Songo” mendirikan masjid pesantren Glagah Wangi dalam satu malam. Karena kecepatan pembangunan masjid tersebut Ki Ageng Selo menggambarkan kecepatannya seperti halilintar/bledek. Dilukis  olehnya bagai binatang mitos mahkota kepala naga dengan mulut bergigi yang terbuka dan jambangan yang diseteril  bunga-bunga tumbuhan, terukir pada daun pintu yang terbuat dari kayu jati. Pintu itu terletak pada pintu utama/tengah masjid, sebagai Condro sengkolo/prasasti yang berbunyi “Nogo Mulat Wani”= 1388 Saka/1466 M. Pintu itu lebih dikenal sebagai pintu bledek. Masjid itulah yang kini masih berdiri tegak sebagai Masjid Agung Demak…keren banget yah…!

Duplikat pintu bledek yang menjadi koleksi museum Masjid Agung Semarang (dok. yunisura.wordpress.com)

Nah pas lagi jalan-jalan di Masjid Agung Semarang, kami naik ke atas menaranya, dan di lantai dua dan tiga menara itu terdapat Musium tentang masuknya islam ke negeri nusantara. Asyiknya lagi di sana kami menemukan peawar rasa penasaran kami akan kebesaran kerajaan islam di pulau Jawa. Di Musium itu kita bisa melihat pusaka peninggalan ulama-ulama dahulu ketika menyebarkan islam, termasuk pedang yang dipakai prajurt pangeran Diponegoro untuk perang melawan Belanda selama 8 tahun. Ada juga duplikat pintu bledek Ki Ageng Selo yang kita bicarakan di atas. Wah … berwisata di museum memang seru dan asyik ya, siapa mau ikut?