Category Archives: opini

Kesehatan itu Penting

IMG-20160115-WA000

bersama Dokter Anak Theresia di RSU Harapan Bersama Singkawang (dok.yunisura)

Kesehatan itu penting. Penting banget. Karena dengan sehat, kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan. Makan enak, tidur enak, belajar enak, kerja enak, pokoknya kalau sehat, pasti semua serba enak. Oleh karena itu, menjaga kesehatan tidak kalah penting dengan kesehatan itu sendiri.

Saking enaknya, banyak dari kita kadang lupa, kalau kesehatan itu nikmat yang sangat berharga. Waktu sehat kita, tidak digunakan sebaik mungkin. Sehingga ketika datang waktu sakit, baru deh merasakan betapa sehat itu sangat berharga. Orang rela menggelontorkan biaya berapapun agar ia bisa meraih kembali kesehatannya. Jadi ingat, sosok Dahlan Iskan yang harus ganti hati demi kesehatannya. Dan ketika kesempatan untuk sehat itu kembali beliau raih, beliau gunakan betul-betul kesehatan itu dengan berbuat kebaikan dalam bentuk apapun. Maka benarlah sabda Rasulullah saw bahwa ada dua nikmat yang sering dilupakan manusia, nikmat sehat dan nikmat waktu luang. Kedua hal itu memang paling sering dilalaikan oleh manusia.

Sejatinya setiap kita harus bertanggungjawab pada dirinya sendiri dalam menjaga kesehatan. Namun ketika kita tidak bisa menghindar dari sakit, maka mau tidak mau kita harus mencari fasilitas kesehatan agar bisa sembuh dari sakit yang diderita. Sayangnya, fasilitas kesehatan biasanya hanya lengkap di kota dan amat minim di daerah.

Sebagai contoh di kota yang sudah saya tinggali dua tahun lebih ini, meskipun punya rumah sakit umum daerah yang fisiknya lumayan bagus, tapi tidak didukung oleh  tenaga dokter spesialis setiap hari. Misalnya saja dokter kandungan. Dokter kandungan yang seharusnya bisa standby di kota ini, hanya ada Senin dan Rabu. Itu baru dokter kandungan. Belum dokter anak yang cuma ada Senin dan Kamis. Tapi sudahlah, kami sudah cukup bersyukur ada dokter spesialis di rumah sakit umum ini. Kami sangat paham, dokter juga manusia. Mereka butuh pemasukan. Dan pilihan tinggal di ibukota provinsi memang tepat, karena para dokter itu bisa dapat lebih di sana.

Seharusnya pemerintah kabupaten berinisiatif untuk mengikat para dokter spesialis itu. Tanam mereka di daerah dan jangan boleh pindah. Syukur putra daerahnya sendiri. Tapi kalau sudah ditanam ya harus diberi nutrisi yang baik. Karena kalau tidak, bisa kering dan layu tak bersemangat. Sekolah dokter itu kan mahal. Paling tidak mereka harus dibayar setimpal dengan keahlian yang dimiliki sehingga betah tinggal di daerah. Pemerintah kan tinggal menganggarkan saja. Karena kesehatan itu penting.

Bicara tentang dokter spesialis kandungan dan anak. Saya jadi teringat tiga bersaudara yang sama-sama berprofesi dokter spesialis di Singkawang. Ketiga dokter ini adalah putri dari pendiri rumah sakit harapan bersama Singkawang yang dulunya dikenal rumah sakit victor. Dokter Trifina dan Veridiana adalah dokter spesialis kandungan, sedang dokter theresia adalah dokter spesialis anak. Ketiganya sangat ramah dan menenangkan pasien. Saya cocok periksa di sini.. Tapi ingat ya, yang kasih sembuh itu Allah swt, dokter hanya membantu menyembuhkan.

Periksa USG dan konsultasi di sana hanya 100 IDR. Langsung bayar sama dokternya di dalam. Kalau obat bayar di kasir. Sedangkan konsultasi dokter anak hanya 75 ribu. Bayar langsung di awal daftar. Obat bayar terpisah setelah diperiksa. Harga yang cukup terjangkau. Fasilitas dan pelayanan di sana juga nyaman. Ada tempat bermain anak. Ruang tunggu ber-AC dan sofa yang empuk ditemani televisi. Disediakan juga teh hangat di ruang tunggu. Ada kursi pijat juga, tapi yang ini bayar lima ribu. Saya sangat nyaman di rumah sakit ini. Meskipun sayang tidak bekerjasama lagi dengan BPJS. Kami terus berharap rumah sakit ini digandeng lagi oleh BPJS. Bukankah pemerintah seharusnya memperbanyak jaringan kerjasama dengan rumah sakit-rumah sakit terutama di daerah-daerah. Karena kesehatan itu penting.

Jokowi, Sosok Inspiratif dari Solo

Jokowi saat jadi walikota Solo di Car Free Day Slamet Riyadi. (dok. blognya anita)

Jokowi saat jadi walikota Solo di Car Free Day Slamet Riyadi. (dok. blognya anita)

 

Awal kekagumanku pada pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 ini berawal dari cerita saudaraku yang tinggal di Solo. Awalnya aku nggak terlalu peduli dengan perubahan yang terjadi di kota Surakarta. Tapi setelah mendengar cerita kekaguman yang sama dari beberapa orang Solo, aku mulai perhatian pada bapak berusia 52 tahun ini.

Saat menginjakkan kaki kembali di tanah air pada tahun 2009. Solo adalah kota pertama yang aku singgahi setelah Karawang. Di sana aku bertemu pertama kalinya dengan keluarga suamiku. Kenangan itu tidak akan hilang sampai kapan pun. Kedua kalinya aku datang ke Solo adalah saat adik iparku melahirkan anak kedua mereka. Saat itulah aku mendengar komentar-komentar baik terhadap kepemimpinan Pak Jokowi.

Kata saudaraku, setelah ada Jokowi, Solo berubah menjadi lebih indah. Kota Solo ditata rapi dan mulai menghijau dengan banyaknya taman. Dan yang lebih dahsyat lagi adalah saat Pak Jokowi berhasil merelokasi para PKL dengan cara yang elegan tanpa paksaan. Bahkan mereka melakukan arak-arak budaya dengan menggunakan pakaian adat saat para PKL itu pindah ke Pasar Klitikan Semanggi.

PKL memang selalu menjadi momok bagi kota di Negara-negara berkembang terutama Indonesia. Jumlahnya yang banyak dan tak teratur telah merubah citra kota menjadi terkesan kumuh. Begitu pula yang dialami Solo. Banyak PKL yang menjamur di jalan arteri kota dan fasilitas-fasilitas umum, sehingga menutupi keindahan yang Solo miliki.

Contohnya saja, tugu-tugu bersejarah Solo, yang seharusnya terlihat sakral menjadi tak bernilai karena dikelilingi oleh para PKL. Namun setelah Jokowi memimpin Solo sedikit demi sedikit wajah Solo tampak memancarkan pesonanya.

Akhirnya ketertarikan saya pada Jokowi tersambut dengan adanya gebrakan beliau terhadap esemka. Nama beliau kian melambung dan tersibaklah keistimewaan yang dimiliki suami dari Iriana Jokowi ini. Solo menjadi magnet tersendiri bagi wartawan untuk meliput berita. Kemudian setiap langkah yang Jokowi lakukan, menjadi episentrum pemberitaan media.

Sepak terjangnya di dunia pemerintahan dan perubahan-perubahan yang digagasnya bagi kota Solo menjadi trend mode di dunia birokrasi. Sikapnya yang mau turun ke bawah, gaya blusukannya, dan keramahannya dan ketegasannya dalam memimpin menjadi sosok inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jokowi hanya beberapa meter saja. (dok. yunisura)

Jokowi hanya beberapa meter saja. (dok. yunisura)

Indonesia saat ini sedang haus sosok pemimpin yang bisa memberikan perubahan dan mengayomi rakyatnya. Sehingga ketika nama Jokowi muncul dengan berbagai pesonanya, rakyat dan terutama saya menjadi orang yang selalu haus akan beritanya setiap hari. Apa yang dilakukannya hari ini, kemana sekarang beliau blusukkan, perubahan apa lagi yang akan beliau gagas, menjadi sesuatu yang amat dirindukan.

Saat Car Free Day di jalan Slamet Riyadi Solo, akhirnya kami bisa bertemu. Saat itu beliau baru pulang jalan-jalan naik sepeda tanpa pengawalan. Seperti orang biasa saja, sampai orang nggak akan ngira kalau itu walikota Solo yang terenal itu. Suami saya menghampiri beliau dan ngobrol. Saya diajak juga untuk berfoto, tapi entah kenapa kok saat itu saya nggak mau. Saat itu suami saya bilang “Mumpung Jokowi masih gampang ditemui loh, nanti kalau sudah jadi presiden sudah susah ngajak foto barengnya”. Kira-kira begitu kata suami saya. Dan benarlah sekarang Jokowi sudah jadi orang terkenal dan menjadi pembicaraan banyak pakar dalam kaitan pencalonannya sebagai presidrn pada tahun 2014.

suami saya berfoto dengan jokowi di Lodji Gandrung

suami saya berfoto dengan jokowi di Lodji Gandrung

Wah kalau nanti Jokowi beneran jadi presiden, bener-bener susah ketemunya. Akhirnya saya jadi menyesal nggak foto bareng beliau, Padahal jarak kami saat itu hanya satu meter.

Serunya Njajal Esemka

asyiknya njajal duduk di mobil esemka (dok. yunisura.wordpress.com)

Meski  mobil Esemka dikabarkan gagal Uji emisi, tapi aku tetap optimis kalau mobil ini suatu saat akan menjadi mobil yang menjadi kebanggaan bangsa ini. Kegagalan yang dialami mobil Esemka saat uji emisi pastinya akan menjadi pelajaran berharga bagi SMK  anak-anak  para pembuat mobil dan akan menjadi pengalaman dalam pembuatan-pembuatan mobil yang lainnya.

Ngomong-ngomong tentang Esemka, yang jelas aku sudah pernah njajal duduk di kursi empuknya pas mobil itu dipajang di halaman depan rumah dinas Pak Walikota Solo. Yah…Pak Walikota yang akrab dipanggil Jokowi ini memang walikota yang low profile, gampang banget kalau mau ketemu beliau saat hari Minggu, tepatnya saat Car Free Day di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo. Kedua mobil buatan SMK 2 Surakarta dan SMK Warga Solo ini selalu dipajang setiap Minggu Pagi di depan rumah pak Jokowi agar masyarakat bisa member komentar, kritik dan sarannya buat kedua mobil itu.

Mobil yang gagah itu tampak sangat menawan. Design interiornya juga oke dan luas, sangat cocok menjadi mobil keluarga Indonesia. Suatu saat aku juga pengen beli mobil yang keren seperti itu. Semoga saja mobil ciptaan anak-anak bangsa ini dapat menjadi mobil primadona di negerinya sendiri mengalahkan mobil-mobil merek luar negeri.

Saat menyaksikan acara eight eleven MetroTV, kebetulan host nya membahas seputar kegagalan uji emisi mobil Esemka, saat itu Pak Jokowi dan Pak Roy Suryo dijadikan narasumber. Hanya dua hal yang membuat mobil ini tidak lolos uji emisi, yaitu pada lampu dan bahan bakar. Aku nggak paham masalah mobil, tapi satu yang pasti, yaitu sudah sangat merindukan ada mobil ciptaan dalam negeri yang berkualitas yang bisa bersaing dengan mobil-mobil brand luar negeri yang sudah lama bertengger di hati konsumen mobil Indonesia.

Kapan saatnya ya? Yang jelas sampai saat ini sudah ada banyak mobil karya anak negeri ini, tapi selalu saja tak bisa menguasai pasar mobil Indonesia karena kalah saing dengan mobil merek luar negeri.  Lelah rasanya menanti dan mungkin saat mobil esemka ini muncul di perbincangan nasional, rasanya ingin sekali mengakhiri masa penantian panjang untuk memiliki mobil ciptaan anak bangsa yang tidak hanya berkualitas tapi juga digandrungi masyarakat banyak karena designnya yang oke.

 

Semoga saja mobil esemka bisa bersaing di pasar mobil nasional sehingga impian punya mobil  made in Indonesia yang best seller dan berkualitas bisa tercapai. Maju terus esemka, taklukkan uji emisi yang masih menantang di depan, semoga izin kelayakan dan keamanan bisa berkendara bisa kau dapatkan.